2 Pengacara Senior Beri Literasi Hukum di Rakernas Pewarna ID Soal Tantangan Pers

BOGOR, WARTANASRANI.COM - Bertempat di Safari Lodge Taman Safari Indonesia, Cisarua, Bogor, Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (Pewarna ID), menghadirkan 2 pengacara senior untuk memberi literasi hukum soal tantangan dunia Pers ke depan di era teknologi digital dan pemberitaan, sabtu (26/08/2017).

Dalam pembekalan literasi hukum sebelum dimulainya rapat kerja, pengacara kondang Jhon S.E Panggabean, S.H, M.H., berbagi cerita tentang pengalamannya dalam menangani berbagai kasus di Pengadilan dimana pers atau wartawan kerap menjadi mitra kerjanya dalam hal sebagai media untuk mengungkapkan kebenaran.

"Saya akrab, kenal banyak dengan beberapa wartawan. Bahkan saya sudah lama dan hingga kini terlibat dalam industri pers, dari sebagai penasehat hukum hingga beberapa kali mempunyai media pers sendiri," ungkap Jhon yang juga sebagai Dewan Penasehat DPP Pewarna ID ini.

Dikatakan ayah dari artis penyanyi rohani Clara Panggabean ini, profesi advokat memiliki kesamaan dengan wartawan, yakni, seringnya menerima teror dan ancaman juga godaan.

"Asal ada data yang benar dan valid, misalnya berupa rekaman, kita tidak perlu takut. Jangan takut menyatakan kebenaran dan jangan gampang tergoda oleh materi dari oknum yang ingin membeli berita kita," imbaunya.

Dalam kesempatannya Jhon juga mengingtakan para wartawan selalu memberitakan pemberitaan yang berimbang dan yang mencerahkan. "Jika berita yang akan ditulis itu berupa kasus yang membutuhkan klarifikasi harus dilakukan karena jika tidak bisa diperkarakan hukum. Yang terpenting, buatlah karya berita yang bisa memberi pencerahan, edukasi kepada masyarakat," tuturnya mengingatkan.

Terkait UU ITE KUHP yang kerap menjerat wartawan, Jhon meminta agar media, khususnya media online, selain berhati-hati membuat berita juga mempunyai ijin resmi secara hukum sebagai media pemberitaan. "Saya siap memberi pembelaan bagi teman-teman yang mengalami masalah hukum," ujar dia.

Menurut Jhon, dari pengalamannya, profesi sebagai wartawan cukup ditakuti oleh aparat hukum. Namun demikian dia kembali mengimbau agar wartawan memaknai stigma tersebut untuk mencari keuntungan pribadi atau bersikap seenaknya. "Saya mengalami dimana ada hakim jadi berani mengambil keputusan karena ada dukungan wartawan. Begitu juga dengan kebijakan pemerintah bisa berubah karena kencangnya suara dari media," ungkapnya.

Terkait organisasi Pewarna ID, Jhon mengimbau agar selalu kompak dan jangan ada yang memiliki ambisi saat organisasi besar. "Jangan sampai Pewarna terpecah-pecah dengan timbul organisasi baru yang sejenis bahkan sama. Jangan seperti  organisasi advokat Peradi saat ini yang terpecah 3 dengan nama yang sama dan saling klaim sebagai Peradi yang sah yang pada akhirnya gaung organisasi tersebut tenggelam," ungkap Jhon yang mengaku sudah aktif di organisasi advokat sejak usia muda.

Sementara itu, advokat senior Jamada Girsang dalam kesempatannya memaparkan soal kelengkapan legalitas hukum yang harus dipenuhi insan pers serta persoalan-persoalan hukum yang kerap menimpa pelaku pers. Sama seperti Jhon, Jamada juga bersedia membantu pendampingan kepada wartawan yang tergabung di Pewarna ID yang terkena masalah hukum.

"Silahkan juga berkonsultasi hukum dengan saya terkaitpersoalan hukum lainnya," kata Jamada yang juga Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pewarna ID.

Dalam paparannya Jamada juga memberikan tentang pengertian dan prinsip-prinsip dalam hukum. Kembali soal pendampingan hukum kepada rekan-rekan wartawan yang tergabung dalam Pewarna di daerah, dia siap membantu meski tidak mempunyai kantor perwakilan advokasi di daerah tersebut.

"Konsultasi khan bisa lewat telepon, WA atau email. Kami (LBH Pewarna) siap membantu," katanya sambil menulis nomor Handphone di papan tulis. (ARP)