Jelang Pemilu 2019, Sinode GPdI Sampaikan Surat Pastoral Bagi Warganya

Ketua Umum Majelis Pusat Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Pdt. Dr. Johnny Weol MM. M.Th., didampingi Sekum, Pdt. Drs. Yohanes Lumenta (DKI Jakarta) dan beberapa Pengurus Inti Majelis Pusat (MP)

JAKARTA, WARTANASRANI.COM - Sambut Pesta Demokrasi yang akan dilaksanakan pada 17 April 2019, Sinode Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) mengeluarkan Surat Pastoral bagi warga GPdI yang tersebar di 20.000 sidang jemaat di seluruh Indonesia termasuk yang berada di mancanegara. Pesan Pastoral ini, disampaikan langsung Ketua Umum Majelis Pusat Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Pdt. Dr. Johnny Weol MM. M.Th., dalam konferensi terbatas di ruang utama Wisma Pantekosta Sunter, Jakarta, Senin pagi ini (18/03).
 
Didampingi Sekum, Pdt. Drs. Yohanes Lumenta (DKI Jakarta) dan beberapa Pengurus Inti Majelis Pusat (MP), Pdt. Johnny Weol menyampaikan bahwa sebagai Warga Negara Indonesia, warga GPdI memiliki hak suara berkaitan dengan Pemilu 2019. Oleh karenanya Ia pun mengajak semua warga GPdI dimanapun berada, untuk menggunakan hak suaranya dan tidak golput (tidak memilih - red).
 
Terkait hal ini, Majelis Pusat GPdI telah memberikan wawasan dan pandangan yang jelas dan obyektif untuk seluruh pemilih yang akan menggunakan hak suara pada hari pemungutan suara 17 April 2019. 
 
"Hal ini perlu dijelaskan terutama dalam hal memilih presiden dan wakil presiden untuk masa kerja 5 tahun ke depan, termasuk memilih anggota legislatif tingkat pusat, propinsi dan daerah," terang Pdt. Johnny Weol.
 
Ditegaskannya pula bahwa kebijakan MP GPdI dalam Pileg adalah memberikan kebebasan sepenuhnya kepada warga gereja untuk memilih sesuai hati nuraninya. 
 
“Karena kadang di lapangan ada banyak hal yang bisa saja ditemukan, misalnya saling berkaitan dengan keluarga, berkaitan dengan teman. Itu sebabnya diberikan kebijakan agar mereka memilih sebebas-bebasnya," ungkap Weol.
 
Sementara menyangkut pemilihan presiden dan wakil presiden, menurutnya, tidaklah etis kalau kemudian MP GPdI menyebutkan langsung nama yang harus dipilih. Sinode GPdI hanya menghimbau agar warganya menggunakan hak pilih dengan mencermati dan melihat realita di lapangan.
 
”Kepada seluruh warga jemaat GPdI yang memiliki hak suara kami menyarankan untuk : Memilih dari hati nurani, lalu tetap mencermati kondisi yang berkembang di tengah masyarakat, dan secara obyektif melihat realita di lapangan. Sejauh ini bagaimana dampaknya? Dalam artian, melihat bagaimana perkembangan perjalanan bangsa kita hingga saat ini, sehingga kepada seluruh warga GPdI yang memiliki hak suara, kami berikan penekanan untuk tidak bersikap golput, karena hal itu tidak baik, dan tentunya menggunakan hak pilih dengan penilaian dan pencermatan yang obyektif," terang Pdt. Johnny Weol.
 
Berikut ini salinan dari 6 poin pernyataan sikap yang dikeluarkan oleh Majelis Pusat GPdI yang dibacakan oleh Pdt. Dr. Johnny Weol, MM. MTh. :
 
Pertama, Kepada seluruh warga jemaat Gereja Pantekosta di Indonesia diminta untuk membantu pemerintah, aparat keamanan (TNI/Polri) dalam hal menjaga ketertiban demi terciptanya keadaan yang kondusif.
 
Kedua, Kepada seluruh warga jemaat Gereja Pantekosta di Indonesia diminta untuk tidak menyebarkan hoax yg berpotensi terciptanya keresahan di tengah masyarakat.
 
Ketiga, Dalam rangka pelaksanaan Pemilu 2019, kepada seluruh warga jemaat Gereja Pantekosta di Indonesia untuk tidak bersikap golput.
 
Keempat, Kepada seluruh warga jemaat Gereja Pantekosta di Indonesia yang telah memiliki hak suara untuk memilih presiden dan wakil presiden serta para wakil rakyat di semua tingkatan (pusat dan daerah) diminta untuk mendatangi Tempat Pemungutan Suara pada hari yang telah ditentukan yaitu 17 April 2019.
 
Kelima, Kepada seluruh warga jemaat Gereja Pantekosta di Indonesia diminta untuk menggunakan hak suara pada hari tersebut, memilih presiden dan wakil presiden secara bertanggung jawab, menggunakan hati nurani, obyektif dengan memperhatikan realita di lapangan demi kelangsungan bangsa dan negara kita yang lebih baik, lebih maju dan lebih sejahtera ke depan.
 
Keenam, Kepada seluruh warga jemaat Gereja Pantekosta di Indonesia diminta untuk senantiasa menaikkan Doa Syafaat bagi bangsa, negara RI, pemerintah serta aparat keamanan (TNI dan Polri) dan seluruh rakyat Indonesia. (*)