Pdt Dr. Erastus Sabdono : Memang Pandangan Saya Agak Tidak Sesuai Dengan Pandangan Umum

Pdt Dr. Erastus Sabdono

Ditengah-tengah kesibukannya Pdt. Dr. Erastus Sabdono menerima Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA) di ruang kerjanya (9/08/2019). Dalam pertemuan tersebut, terjadi perbincangan yang hangat karena kedatangan PEWARNA disambut baik oleh beliau.  Dan ia pun sedikit membagikan pandangan-pandangannya yang melandasi kehidupan pribadinya untuk melayani Tuhan, diantaranya; Pertama, Kesucian Hidup menurutnya orang Kristen harus hidup dalam kebenaran. Menjaga kehidupannya dari berbagai macam godaan dunia ini.

 Kedua, Pengharapan Langit Baru dan Bumi Baru menurutnya kehidupan manusia itu sangat singkat dan hal itu pun jelas tercantum dalam Alkitab sebagai firman Tuhan.

“Sebab hidup kita singkat dibumi ini”, tuturnya.

 Dan ketiga, Tanggung Jawab menurutnya setiap orang percaya diberikan tanggung jawab oleh Tuhan selama hidup didalam dunia ini, oleh sebab itu setiap orang harus bisa bertanggung jawab dengan apa yang dilakukannya. Dengan memerankan hidupnya sesuai dengan bidang yang digeluti untuk memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.

 “Mau sehat jaga pola makan yang baik, mau kaya kerja keras tidak hanya bergantung pada mujizat” terang ketua sinode Gereja Suara Kebenaran Injil (GSKI).  

 Kemudian ia lanjutkan dengan menjelaskan bahwa orang Kristen harus bisa memaksimalkan potensi yang dimilikinya. Dimanapun berada, sesuai dengan bidang yang mereka geluti, harus bisa memerankan panggilannya baik sebagai seorang wartawan, praktisi hukum, tenaga medis, pengusaha dan lain-lain.

 “Dan sudah saatnya orang Kristen memahami bahwa pelayanan itu bidang yang dia geluti, dimanapun berada. Anda sebagai seorang wartawan, inilah tempat dimana memerankan panggilan anda. Dan anda ini adalah hamba-hamba Tuhan, hamba Tuhan di kewartawanan”, pungkasnya.

 Penjelasannya pun tetap berlanjut, bahwa sebuah pelayanan itu tidak bergantung pada waktu tetapi semuanya bergantung dari motivasi, dan Erastus pun memberikan contoh seperti dirinya, bahwa ia adalah Pendeta, dan ia harus memiliki motivasi yaitu motivasi hati, artinya melakukan segala sesuatu dengan hati yang mengasihi Tuhan.

“Soal full time atau tidak, itu tidak tergantung dari waktu tapi tergantung dari motivasi, motivasi hati kalo seorang pendeta seperti saya. ”, lanjutnya.

 Menurutnya seluruh hidup ini adalah milik Tuhan, oleh karena itu sudah selayaknya orang percaya mempersembahkan seluruh hidupnya untuk melayani Tuhan. “Jadi full time itu adalah motivasi, apakah praktisi hukum, apakah pendidik, apakah tenaga medis harus sepenuhnya untuk Tuhan”, tuturnya.

 Beliau kemudian menjelaskan kembali secara singkat mengenai Perpuluhan yang sempat menjadi perbincangan hangat di kalangan umat Nasrani. Dan banyak orang menganggap dirinya tidak setuju dengan perpuluhan yang menjadi perintah Tuhan. Pada kesempatan ini ia mengatakan bahwa semua anggapan-anggapan demikian adalah salah. Karena yang ia maksudkan adalah bahwa tidak hanya perpuluhan yang menjadi milik Tuhan tetapi seluruh hidup orang percaya adalah milik Tuhan, jadi tidak hanya terbatas pada perpuluhan.

 “Maka kalo saya sering diserang tidak setuju perpuluhan, itu salah. Aku bukan tidak setuju karena Tuhan memberikan kita itu kebenaran bahwa segenap hidup kita milik Dia. Ndak pake hitungan sepuluh persen, segenap hidup”, tandas direktur STT Ekumene ini.

 Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa penerapan perpuluhan gerejanya untuk membantu gereja-gereja di daerah. Sekalipun sudah ada yang memberikan ia sebidang tanah dengan luas 5000 meter persegi untuk membangun gereja, ia pun mengembalikannya kepada pemiliknya. Karena ia tidak mau waktunya terbuang habis hanya untuk membangun sebuah gedung.

 “Saya sudah diberi tanah orang lima ribu meter, saya kembalikan. Kalo saya bangun gedung, waktu saya kan habis bangun gedung dan saya cari dana” tutur Gembala Sidang GSKI Mall Artha Gading ini.

 “Saya medingan kontrak aja begini, belum tentu sepuluh tahun lagi saya masih hidup”, lanjutnya dengan nada bercanda kepada awak media.

 Eras pun tidak menolak apabila ada yang ingin membangun gedung untuk gerejanya. “Kecuali ada orang bangunin saya, you boleh bangunin tapi kalo saya bangun saya enggak mau”, terangnya.

 Pada kesempatan yang baik ini pun wartawan meminta pandangan beliau sebagai seorang pemimpin gereja untuk menyambut hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-74 tahun. Menurutnya kemerdekaan Indonesia yang sudah direbut dengan darah para pahlawan sangat perlu untuk terus dijaga oleh seluruh masyarakat Indonesia, dengan semangat Bhineka Tunggal Ika. Karena memang Indonesia memiliki keberagaman yang sangat kompleks, dari Sabang sampai Merauke. Tetapi dengan keberagaman tersebut dapat dibangun persatuan dan kesatuan untuk menjadi bangsa yang bermartabat sesuai dengan kerinduan dan cita-cita para pejuang. “Belum (ideal), makna kemerdekaan, saya bahkan putus asa melihat keadaan negeri kita ini yang makin jauh dari cita-cita bapak pendiri Bangsa Indonesia,” ucapnya penuh harap.

Ia pun turut memberikan semangat kepada wartawan yang hadir dan mengucapkan selamat kepada PEWARNA Indonesia karena tidak lama lagi acara Kongres II akan diadakan pada akhir Oktober 2019. Semoga PEWARNA Indonesia dapat terus mewarnai dan mengawal negeri ini dengan ide-ide dan terobosan yang berguna untuk persatuan dan kesatuan. (AW)