PGI Bersama FKUB Sulut Gelar Talkshow Pemilu Damai Tanpa Golput

Sekum PGI Pdt. Gomar Gultom bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulut saat Talk Show pemilu damai tanpa golput, Kamis (28/3/2019), di Ruang Maakaroya Lt. 1 Sutan Raja Hotel, Airmadidi Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara.

AIRMADIDI, WARTANASRANI.COM – Ditengah padatnya acara Konferensi Gereja dan Masyarakat Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (KGM-PGI), Pimpinan PGI bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulut  mengelar Talk Show pemilu damai tanpa golput, Kamis (28/3/2019) malam, di Ruang Maakaroya Lt. 1 Sutan Raja Hotel, Airmadidi Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara.

Di momen itu para pemuka agama menegaskan komitmen dan harapannya pemilu 2019 berlangsung aman, damai, rukun dan tanpa golput. KH. Rizali Muh Noor, Wakil Ketua FKUB perwakilan agama Islam mengatakan bahwa megikuti aturan-aturan yang ada akan membuat pemilu berlangsung damai, rukun dan terhindar dari pertentangan, percekcokkan dan fitnah.

“Sangat tepatlah kita harus mengikuti aturan-aturan dalam pemilu itu sendiri, untuk kedamaian, kerukunan dan keberhasilan,dan menghindari dari pada pertentangan, percekcokkan, fitnah dan sebagainya. Dalam petunjuk Al- Quran, bahwa Allah mengingatkan kita jangan berbuat dosa dan bermusuh-musuhan. Itu jelas!,” ungkapnya.

Terkait komitmen untuk tidak Golput, Wakit Ketua FKUB Sulut ini menegaskan komitmen umat Islam khususnya NU untuk menggunakan hak suaranya pada Pemilu 17 April nanti.

“Kami dari NU secara khusus mendukung bahkan mewajibkan kita mencoblos pada hari H. Ini kewajiban kami dan sudah ada fatwa untuk itu, untuk semua umat Islam, untuk semua umat Nahdlatul Ulama,” tegasnya.

Hal yang sama juga disampaikan perwakilan umat Konghucu, Pon Riano Baggy. Dikatakannya bahwa agama Konghucu, Pemilu untuk memilih pemimpin yang terbaik merupakan suatu keharusan bagi umatnya.

“Suara rakyat adalah suara Tuhan, jadi Pemilu harus dilakukan. Seorang pemimpin yang terpilih akan menjadi  milik semua, untuk kepentingan umum. Jadi mengikuti Pemilu adalah suatu keharusan dan ketika seorang menjadi pemimpin, dia harus menjadi milik semua golongan, menjadi milik rakyat indonesia. Dalam ajaran Konghucu, kalau negara dalam keadaan goncang, kita tidak boleh santai, jadi harus ikut berpartisipasi sebagai warga negara,” ujar Pon Riano yang juga Wakil Ketua FKUB Sulut ini.

Adapun perwakilan Katolik Emmy Lumintang Senewe , Bendahara FKUB Sulut mengatakan, soal komitmen umat Katolik dalam Pemilu 2019 lewat himbauan Uskup supaya jangan golput sebagai seorang warga negara, dan umat Katolik.

"Himbauan Bapak Uskup Manado, supaya jangan golput sebagai warga negara dan seorang Katolik. Laksanakan pemilu dengan baik dan jujur dan memilih pemimpin jangan lihat partainya tapi pilih sesuai hati nurani. Pesan kepada umat Katolik supaya selalu mensukseskan pemilu,” terangnya.

Tak ketinggalan Honny Lionardhy, Perwakilan Umat Budha, yang juga Wakil Ketua FKUB menyampaikan harapannya agar dunia selalu damai dan para pemimpin berlaku tulus.

“Dalam ajaran Budha semoga dunia damai dan pemimpin yangg berlaku lurus. Golput tidak dianjurkan dalam Agama Budha. Pesta harusnya kita bergembira, bukannya dipenuhi rasa takut dan kecemasan. Pilihlah pilihan kita dengan menjaga toleransi. Hoaks dan money politik dihindari,” kata dia.

Sekretaris FKUB, Tenny Assa dari KGPM, mengatakan, pemilu harus berjalan rukun, beda pilihan boleh tapi semangat persatuan harus dijaga.

“Kita boleh berbeda pilihan tapi tetap menjaga kerukunan. Pemilu berlangsung aman dan damai dan akhirnya kita memilih sesuai keinginan," ungkap dia.

Dari perwakilan Gereja-Gereja Pentakosta/Karismatik menyampaikan harapan yang sama khususnya peran tokoh-tokoh agama untuk menjadi corong menolak isu-isu yang bersifat intoleransi mencederai bangsa dan bisa tercerai berai.

Turut memberi sumbang pikiran, Ketua Sinode GMIM Pdt. Hein Arina menyatakan komitmen GMIM yang terlihat dari berbagai seminar, pembekalan-pembekalan yang telah dilakukan kepada para pelayan khusus, terkait hubungan gereja dan politik.

Sementara itu, Ketua FKUB Sulut, Pdt. Lucky Rumopa menyatakan kesiapan FKUB sebagai mitra pemerintah untuk berpartisipasi menjaga pemilu rukun, aman, damai dan berintegritas tanpa golput. Menurutnya pesan-pesan rukun dan damai harus terus dilakukan karena  ada indikasi ancaman terhadap toleransi dan kerukunan beragama.

“Pemilu 2019 ini tensi amat naik, begitu kuat! Sehingga FKUB sebagai bagian dari pemerintah ikut berpartisipasi menjaga pemilu rukun, aman damai tanpa golput. Marilah kita sama-sama terus menyampaikan kepada umat supaya pemilu dapat berlangsung aman damai dan tentram,” ajaknya kepada semua tokoh agama yang hadir.

Pada bagian akhir, mewakili MPH PGI, Pdt. Gomar Gultom memaparkan beberapa alasan mengapa tidak boleh golput pada pemilu tahun ini. Menurut Sekum PGI ini, memilih bukan hanya soal hak tapi juga sebuah kewajiban, sehingga semestinya rakyat harus hadir.

“Ketidak hadiran saat pencoblosan berisiko terhadap dua kemungkinan; pertama, akan terpilih orang yang kurang baik. Oleh karena itu kita harus usahakan hadir untuk memilih. Resiko kedua bila tidak hadir adalah, kemungkinan surat suara yang mustinya kita pakai, mustinya kita coblos, itu disalahgunakan oleh oknum-oknum lain. Membiarkan kecurangan, membiarkan penyalahgunaan itu sama dengan ikut berpartisipasi dalam penyalahgunaan itu,” tegasnya.

“Membiarkan kecurangan, membiarkan penyalahgunaan itu sama saja dengan ikut berpartisipasi dalam penyalahgunaan itu! Jadi ketidak hadiran kita di bilik pencoblosan, sesungguhnya  juga sedang membiarkan diri terlibat dalam proses kecurangan  dalam pemilu,” tegas Gomar lagi, mengingatkan agar semua warga ikut berpartisipasi dalam pemilu dan tidak golput.

Tanya jawab dan clossing statement menjadi bagian penutup dari talkshow “Pemilu Aman, Damai, Rukun Tanpa Golput” yang dipandu oleh Humas PGI, Irma Riana Simanjuntak. (RSO)