SURAT PENGGEMBALAAN 2018: PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DAN LEMBAGA-LEMBAGA INJILI INDONESIA

pglii

JAKARTA, WARTANASRANI.COM - Mengakhiri tahun pelayanan 2018, PGLII mengeluarkan Surat Penggembalaan 2018. Berikut petikannya:

logopglii

Shalom! Pertama-tama marilah kita kaum Injili, Anggota dan Pengurus PGLII, mengucapkan puji dan syukur, yang karena kasih dan penyertaan Allah Tritunggal, telah membimbing dan menyertai seluruh perjalanan PGLII melewati tahun 2018. Segala kemuliaan hanya bagi Allah.

Melewati perjalanan tahun 2018 sangatlah tidak mudah. Berbagai tantangan dan rintangan baik secara internal maupun eksternal selalu kita alami. Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili di PGLII terus bergumul di dalam dirinya untuk tetap setia memenuhi tugas, panggilan dan mandat Ilahi Tuhan Yesus Kristus, yakni pergi ke seluruh dunia untuk memberitakan Injil, membaptis dan menjadikan mereka yang percaya sebagai murid Tuhan Yesus Kristus.

Pekabaran Injil dalam konteks global dan lokal, khususnya di Indonesia, sedang terus menghadapi perubahan-perubahan teknologi, informasi, sosial dan kebudayaan yang begitu cepat. Teknologi digital dari 3G sudah memasuki 5G, dari era kertas berevolusi kepada dunia maya yang serba berubah cepat.

Warga Gereja dan Lembaga Injili adalah masyarakat Kerajaan Allah, namun pada sisi yang bersamaan merupakan masyarakat dunia, keduanya berbeda, dapat saling berdistribusi positif tetapi juga negatif. Pada konteks ini, Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili di PGLII, di satu sisi dituntut untuk tidak gagap teknologi melainkan harus cerdas mengikuti perubahan yang terjadi begitu cepat, tetapi pada sisi yang lain, dituntut juga untuk tidak mudah menjadi korban kemajuan teknologi yang melesat cepat.

Intinya, Kitab Suci dan Injil harus tetap menjadi sentralitas dan panduan dalam kehidupan Gereja, Lembaga yakni kehidupan kaum Injili sehari-hari di masa kini. Di sini kita dituntut selalu mengasah dan mengandal hikmat Tuhan, agar eksistensi kaum Injili masih tetap kokoh dalam pendirian "Hendaklah kamu tidak menjadi serupa dengan dunia ini" Roma 12:2. Pengertian ini membawa kita selalu pada suatu kesadaran tinggi, kita berada di dalam dunia, namun dunia tidak boleh menguasai kita.

PGLII memiliki motto: "Dipanggil untuk Bersekutu dan Memberitakan Injil". Motto ini terus mengajak dan menuntun kita, bahwa Tujuan PGLII adalah Membela dan Memelihara Teologi Injil yang diimplementasikan ke dalam Tujuan PGLII yang intinya melaksanakan pekabaran Injil. Prinsip ini semakin diteguhkan melalui hasil "Musyawarah Besar Pemuka Agama" yang dilaksanakan pada tanggal 8-10 Februari 2018 di Jakarta, yang menghasilkan dokumen "7 Pokok Rekomendasi Pemuka Agama", dan pada tanggal 28-31 Mei 2018 di Berastagi, digelar "Konperensi Pekabaran Injil 2018" yang diselenggarakan oleh PGLII, PGI, PGPI dan KWI.

KPI 2018 berhasil menyepakati suatu dokumen "Rekomendasi dan Komitment Pekabaran Injil 2018" yang berisi beberapa hal, antara lain yang sangat mendasar, kesepakatan bahwa pekabaran Injii merupakan hakikat gereja, jika gereja berhenti melaksanakan pekabaran Injil, maka gereja telah selesai. Namun demikian, dalam melaksanakan pekabaran Injil, seluruh gereja dan lembaga dituntut untuk melakukan dengan sopan, tidak menyinggung pihak tertentu, dan tidak manipulatif. Selain itu, gereja-gereja diminta untuk membangun jejaring secara lintas denominasi, peduli kepada lingkungan dan berdampak bagi warga di sekitarnya.

PGLII sebagai aras gerejawi nasional, tetap berkomitmen membangun Keesaan Gereja, tubuh Kristus dalam spirit oikumenis bersama gereja aras nasional lainnya, berkomitmen ikut hadir dalam pergumulan kaum Injili, terlibat dalam pembangunan nasional dengan menjadi mitra Pemerintah, terlibat dalam menjaga lingkungan hidup, berkomitmen ikut terlibat menjaga dan merawat "empat konsensus kebangsaan" yakni: Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal ika yang telah dibangun dan diperjuangkan dengan jiwa dan darah oleh para founding father serta rakyat Indonesia dari berbagai golongan dan agama, dan empat konsensus kebangsaan adalah harga mati!

Ketika bangsa Indonesia sedang tergerus oleh isu-isu intolerasi, radikalisme, terorisme yang membuat banyak pihak dan golongan terpapar, maka PGLII tetap berdiri bersama Pemerintah ikut menggaungkan bahwa empat konsensus kebangsaan dan nasionalis adalah yang terbaik bagi bangsa Indonesia. Perjuangan PGLII dalam kehidupan berbangsa dan benegara, adalah ikut berpartipasi dalam visi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) namun tetap bersuara kenabian.

Pada tanggal 8 Agustus 2018 PGLII  lalu,  PGLII  mengemas suatu rangkaian kegiatan guna menjawab pergumulan mendesak dalam rangka HUT PGLII KE 47, yakni dengan menyelenggarakan  simposium dan RAPIMNAS dan telah berhasil merumuskan  MANIFESTO INJILI,  yakni apakah yg dimaksud dengan injili, menginjil dan siapakah kaum Injili itu ?  serta  suatu pernyataan sikap dan pandangan PGLII tentang politik,  demokrasi,  kebangsaan PEMILU,  PILEG DAN PILPRES 2019.

PGLII juga telah menerjunkan Tim Peduli Gempa Lombok dan Gempa Palu, bahkan hingga saat ini Tim Peduli paska gempa PGLII di Palu masih bekerja dilapangan melayani konseling dan pemulihan bagi para korban yg mengalami trauma akibat gempa. pada tanggal 14 Desember tahun 2018, PGLII telah mengadakan Perayaan dan Ibadah Natal PGLII dengan Tema : KAMI DATANG UNTUK MENYEMBAH DIA (Matius 2:2), Ketua Panitia, Ibu Dr Inge Handoko, dengan Pelayan Firman Pdt Dr Ronny Mandang, M.Th, Ketua umum PP PGLII. Acara berlangsung sukses, dan dihadiri pimpi nan aras nasional FUKRI, sinode gereja-gereja dan lembaga-lembaga anggota PGLII, ormas dan lembaga Kristen , GMKI, JDN, UKIP dan Pejabat pemerintah DKI Jakarta Raya.

Ketua Umum PGLII Bapak Pdt Dr Ronny Mandang, M.Th telah menggagas dilaksanakannya Paskah Bersama Gereja-Gereja Se-Indonesia pada bulan April tahun 2019 bersama-sama FUKRI Sedangkan di dalam hubungan internasional saat ini, PGLII telah dipercaya untuk menjadi Panitia Pelaksana (OC) dari kegiatan dunia World Evangelical Alliance (WEA) yang pada tanggal 7-12 November 2019, di Bali atau Jakarta, akan melaksanakan "General Assembly - World Evangelical Alliance".

Dipilih dan ditetapkannya PGLII menjadi Panitia Pelaksana adalah kehormatan besar sekaligus penghargaan bahwa eksistensi dan perang PGLII kini semakin diakui di tingkat global. Kurang lebih akan hadir 120 negara dari seluruh dunia, anggota WEA yang hadir, mari kita doakan! Karena itu, rencana Musyawarah Nasional PGLII ke-XII yang rencanakan pada bulan Oktober 2019 diundur menjadi bulan Maret 2020.

Akhirnya, kami Pengurus Pusat PGLII ingin terus mengajak dan mendorong, agar di tahun-tahun ke depan, PGLII semakin berkiprah di bangsa ini. Sampai Tuhan Yesus Kristus Raja di atas segala raja, akan datang kembali, kuta tetap setia membangun persekutuan dan pergi memberitakan Injil. "Segala jerih juang di dalam Tuhan tidak akan sia-sia".

Selamat hari Natal 25 Desember 2018, dan Selamat Tahun Baru 1 Januari 2019.

Salam Injili, Teriring hormat; Pdt. DR. Ronny Mandang, M.Th (Ketum PP) dan Pdt. Dr. Freddy Soenyoto, M.Th (Sekum PP). (*)