JAKARTA, WARTANASRANI.COM — Peringatan Sumpah Pemuda adalah momentum bangkitnya kembali semangat pemuda dalam membangun bangsa dan tanah air, berlandaskan Kebhinekaan dalam Persatuan dan Kesatuan.
Fenomena gerakan anti kemajemukan, fanatisme kelompok dan tindakan pengecut para teroris atau anarkisme tersebut menunjukkan bahwa cita-cita membangun budaya bangsa yang merdeka, berdaulat adil dan makmur, beradab dan berbudi luhur serta menjunjung tinggi keberagaman dan menghargai perbedaan masih menjadi mimpi kita bersama. Belum lagi generasi muda Indonesia makin banyak yang terpuruk. Sebagai contoh, makin banyak generasi muda Indonesia mengonsumsi Narkoba, mulai dari anak-anak hingga pemuda dewasa.
Menyikapi hal ini, menggugah para pewarta yang tergabung dalam Organisasi Masyarakat bernama Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA ID) menyelenggarakan talk show (Bincang-bincang) bertema: Warna Muda Indonesia. Acara tersebut diselenggarakan pada Kamis (26/10/2017) di Yayasan Komunikasi Indonesia, Jl. Matraman, Jakarta Pusat.
Ketua Panitia Acara, Grollus Sitanggang (Majalah INSPIRASI, BPK Gunung Mulia), mengatakan bahwa acara tersebut mengetengahkan peranan pemuda dalam membangun bangsa, dari tinjauan para profesional muda, aktivis muda, dan akademisi. Profesional muda diwakili Soleman Matipanna, seorang pengussaha muda, sebagai pemantik diskusi, aktivis muda diwakili Jefri Tambayong (Garda Mencegah Daripada Mengobati – GMDM), dan seorang perempuan akademisi muda dan sekaligus anggota DPRD DKI Jakarta, Sereida Tambunan.
Jefri Tambayong lebih banyak menyampaikan tentang makin terpuruknya generasi muda Indonesia terdampak Narkoba, seks bebas, dan juga HIV-AIDS. “Indonesia sudah masuk situasi Gawat Darurat Narkoba,” tegas Tambayong yang juga memperkenalkan 4 pemuda binaannya di GMDM. Meskipun Presiden Jokowi menyatakan Indonesia Darurat Narkoba tahun lalu, tetapi menurut Tambayong seharusnya sudah Gawat Darurat. Makin gilla Narkoba di Indonesia.
Soleman Matipanna, pemantik kedua, lebih menekankan bahwa generasi muda Indonesia harus memiliki jiwa wirausaha (enterpreunership). Setiap tahun sekitar 1 jutaan di Indonesia mencetak Sarjana (S1), tetapi lapangan kerja sangat minim. Kaum muda harus mengubah pola pikir dari pencari kerja di kantoran atau perusahaan menjadi pengusaha muda yang mandiri, inovatif, dan kreatif. Inilah yang dibutuhkan Indonesia di masa depan.
Sereida Tambunan lebih banyak membahas isu-isu radikalisme dan nasionalisme. Menurut darah Batak ini, kaum muda Indonesia perlu mengembangkan budaya lokal sebagai basis meredam radikalisme negatif dan membangkitkan jiwa nasionalisme.
Acara Bincang-bincang yang dikemas dengan gaya anak muda ini berlangsung seru dan hangat. Para peserta diskusi pun banyak yang melontarkan pertanyaan dan tanggapan. Mereka kebanyakan mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi Ikat, STT Taman Firdaus Jakarta, Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Asosiasi Pendeta Indonesia (API), dan Dalihan Na Tolu Center.
Acara yang dimoderasi Daniel Tanamal (dari Radio Pelita Kasih 96,3 FM) ini diawali dengan menyanyikan Indonesia Raya, yang dipandu Ronald Patrick, sebagai penghormatan kepada Bangsa dan Negara Republik Indonesia. Sesi pertama masuk pada pemaparan para pemantik diskusi dan dilanjutkan tanggapan dari wakil GAMKI, Dickson Siringo-ringo. Sebelum masuk sesi kedua, tanya-jawab,
Pangeran Siagian (pemuda berbakat di bidang tarik suara) menyanyikan satu karya ciptaannya.
Pada sesi kedua, para pemantik dan penanggap lebih menggali tentang langkah-langkah konkret, bersama para peserta diskusi. Di akhir acara tersebut, Acara Warna Muda Indonesia ditutup dengan pembacaan kembali Ikrar Sumpah Pemuda yang pernah dibacakan pada 28 Oktober 1928. (*)







