DR. S. TANDIASA: ANTARA VIRUS CORONA DAN IBADAH

Foto: Dr. S. Tandiasa

WARTANASRANI.COM - Wabah penyakit - istilah alkitab penyakit sampar - apapun jenis atau penyebabnya, sudah diungkapkan dalam alkitab sebagai bagian dari masalah-masalah sosial yang sudahh sering terjadi. Secara historis, peristiwa-peristiwa yang disebut wabah penyakit, bukanlah sesuatu yang baru. Bencana sosial berupa wabah penyakit sudah terjadi di sepanjang sejarah hidup manusia, hanya mungkin jenis dan namanya yang berbeda-beda.

Sumber Foto: kemenkes.go.id

Virus corona yang sekarang sedang menggoncang dunia dan mencekam bangsa Indonesia, adalah bagian dari sejarah masalah-masalah sosial yang sudah terjadi di masa lampau dan tentunya masih akan terjadi di masa yang akan datang. Tetapi yang perlu dicatat untuk diingat, khususnya bagi orang-orang Kristen adalah bahwa kejadian-kejadian semacam itu tidak selalu ada hubungannya atau tidak harus dihubung-hubungkan dengan masalah-masalah eskatologi, masalah kiamat, tidak harus dilihat sebagai fenomena akhir zaman, atau tanda-tanda kedatangan Yesus.

MENANTANG BAHAYA DEMI IMAN

Bahwa ada gereja-gereja yg kemudian harus meliburkan kegiatan-kegiatan ibadahnya, itu tidak bisa serta merta dimaknai sebagai bentuk kemunduran gereja, atau tanda kemerosotan iman, atau gejala tidak percaya lagi akan kekuasaan Tuhan. Libur atau meniadakan ibadah komunal ini hanyalah bentuk sikap berjaga-jaga, karena di depan mata kita tampak dengan jelas adanya bahaya.

Alkitab memberi nasehat supaya kita jangan mencobai Tuhan. Jika anda sudah tahu dan apalagi sudah melihat di depan ada jurang, atau ada bahaya,janganlah kita menganggapnya seakan-akan tidak ada, lalu anda berjalan terus ke depan dengan alasan iman, atau karena mengandalkan kekuasaan Allah. Ini adalah bentuk iman yang buta. Salah satu jebakan yang paling sering digunakan oleh iblis untuk menghancurkan orang beriman adalah dorongan untuk menantang bahaya atau masalah atas dasar iman. Tidak jarang orang Kristen mengeksploitasi iman untuk membenarkan segala tindakannya.

Iblis pernah melakukan hal ini pada Yesus. Iblis meminta Yesus untuk membuktikan diri-Nya sebagai Anak Allah dengan cara mejatuhkan diri dari bubungan bait Allah. Iblis meyakinkan Yesus bahwa sesuai Firman Allah, Yesus sebagai Anak Allah tidak mungkin celaka, karena Allah akan mengutus malaikat-malaikat-Nya untuk menatang sehingga kaki Yesus tidak akan terluka.

Semua yang dikatakan iblis itu benar karena yang dikatakannya adalah Firman Allah. Iblis mengutip teks-teks dari Firman Allah. Dengan kata lain iblis berbicara atas dasar Firman Allah. Akan tetapi Yesus tidak melakukannya. Mengapa? Karena Yesus tidak mau mengeksploitasi sifat keallahannya dan kemahakuasaan Bapanya hanya demi membuktikan diri-Nya sebagai Anak Allah. Yesus mau tidak menantang bahaya atas dasar iman akan firman Allah. Andaikan Yesus menjatuhkan diri dari bubungan bait Allah, sudah pasti Yesus tidak akan terluka. Tetapi Yesus tidak melakukannya.

Dengan itu Yesus menyatakan bahwa menantang sesuatu yang sudah diketahui berbahaya dengan alasan Iman atau karena ada tertulis dalam Firman Tuhan, adalah sikap MENCOBAI Tuhan. Biasanya jebakan-jebakan iblis seperti ini berhasil pada mereka yang sangat berapi-api dalam IMAN tetapi SALAH KAPRAH dalam memahami dan menerapkan Firman Allah. Orang-orang seperti inilah yang disebut memiliki iman tetapi tanpa pengetahuan yang benar. Albert Einsteinn bilang: Iman tanpa pengetahuan buta...

TANGAN TUHAN DAN TANGAN MANUSIA

Terlepas dari agama yang dianut, kita semua meyakini bahwa di atas segalanya adalah kekuasaan Tuhan. Hanya Tuhan yang sanggup melindungi kita dan bangsa ini dari virus Corona. Hanya Tuhan Allah yang sanggup memelihara bangsa sehingga bisa melewati masa-masa sulit, yaitu ancaman virus corona. Dan jika sudah ada yang terpapar Corona, hanya kuasa Tuhan pula yang mampu menyembuhkan. Akan tetapi perlu disadari bahwa cara kerja kuasa Tuhan, baik untuk mencegah, memelihara, atau pun untuk menyembuhkan dari virus corona, tidak terbatas hanya melalui doa-doa atau melalui kegiatan-kegiatan ibadah. Cara kerja kuasa Allah juga tidak hanya berupa tindakan-tindakan mujizat, atau tindakan-tindakan supranatural.

Makna kemahakuasaan Tuhan tidak hanya berarti bahwa Allah dapat melakukan segala sesuatu hanya melalui kata-kata, tetapi juga berarti bahwa Tuhan dapat dan mebas menggunakan segala sesuatu menjadi sarana dan cara untuk menyatakan kuasa-Nya, untuk melindungi, memelihara, menyembuhkan dan menyelamatkan manusia dari bahaya-bahaya maut.

Dalam konteks wabah virus corona yang sedang mencekam Indonesia, termasuk di dalamnya mengancam orang-orang beriman, kiranya perlu disadari secara mendalam bahwa pemerintah dengan seluruh perangkatnya, adalah juga bagian darintangan Tuhan. Tuhan menggunakan berbagai instansi pemerintah, lembaga negara, dan paramedis sebagai tangan-Nya untuk menyelamatkan bangsa ini dari wabah Corona.

Kebijakan-kebijakan dan upaya-upaya pemerintah untuk melindungi masyarakat dari virus corona harus dilihat sebagai kepanjangan dari tangan Tuhan yang sedang terukur untuk menolong kita. Lembaga pemerintahan juga adalah hamba Tuhan yang diutus untuk menolong, melindungi, dan memberkati masyarakat.

Perhatikanlah Firman Tuhan yang disampaikan rasul Paulus berikut ini: ‘Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya. Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya. Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat’ (Rom. 13:1-4)

IBADAH BERJEMAAT

Himbauan pemerintah supaya untuk sementara waktu kita menghindari kegiatan-kegiatan yang sifatnya menghimpun massa dalam jumlah besar, termasuk berhimpun untuk beribadah, merupakan salah satu cara yang dianggap baik oleh pemerintah untuk mencegah penyebaran lebih luas virus corona.

Pemerintah bertujuan menolong, menyelamatkan, dan menghindarkan masyarakat dari penularan virus yang mematikan itu. Orang-orang beriman perlu menggunakan akal budi dalam meresponi himbauan atau kebijakan pemerintah tersebut. Karena tujuan dan maksud utama dari kebijakan tersebut BUKANLAH melarang kita untuk berkumpul beribadah, sama sekali bukan itu maksudnya.

Tujuan utamanya adalah MENCEGAH dan MENGHINDARI penyebaran dan penularan virus corona yang dapat terjadi ketika jemaat berkumpul beribadah dalam jumlah yang besar di dalam ruangan-ruangan kebaktian.

Bahwa kemudian ada saran atau anjuran untuk melakukan ibadah dalam bentuk ONLINE, dan mungkin ada gereja-gereja yang sudah melakukannya, hal ini harus dilihat sebagai masalah 'Situasional'. Artinya beribadah online – tidak berkumpul bersama-sama, bukanlah fenomena lunturnyan iman, bukan pula tanda-Tand kemunduran rohani, apalagi menyebutnya ‘bukan iman sejati’.

Terlalu gegabah dan sangat kurang bijak bila ada orang Kristen, apalagi hamba Tuhan, yang berpendapat demikian. Wabah virus corona ini adalah sebuah bencana sosial yang sifatnya temporer, yang mungkin akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan, atau tidak selamanya.

Sama halnya ketika terjadi bencana-bencana alam, seperti gunung meletus, banjir bandang, atau gempa bumi besar, penduduk atau jemaat yang ada di daerah-daerah yg terkena bencana alam, pastilah tidak dapat berkumpul untuk beribadah bersama-sama selama beberapa waktu, demikian juga kita harus melihat situasi virus corona ini.

Dengan kata lain, himbauan untuk tidak beribadah dengan cara berjemaat – mengumpulkan masa, hanya bersifat temporer, hanya untuk beberapa saat demi kebaikan kita bersama.

Pertanyaan-pertanyaan seperti: boleh atau tidak, salah atau benar, sesuai dengan Alkitab atau tidak, kalau kita beribadah dengan model online? Lalu kalau ibadah dilakukan dalam bentuk online, bagaimana jemaat membawa persembahan dan persepuluhan?

Kiranya umat kristiani perlu manyadari bahwa ibadah online yang disarankan saat ini bukanlah sesuatu yang bersifat ajaran atau doktrin teologi yang kemudian harus dianut. Ibadah online adalah sesuatu yang bersifat emergensi, dilakukan dalam keadaan darurat. Jadi apa salahnya? Tentang bagaimana jemaat atau kita membawa persembahan kalau ibadahnya online?

Maaf, menurut penulis, sangatlah tidak etis jika dalam situasi dan kondisi bencana yang telah merengut ribuan nyawa sesama manusia ini, lalu yang dipikirkan, yang dipersoalkan, dan yang dipertanyakan adalah tentanguang persembahan atau persepuluhan. Kiranya akan jauh lebih mulia dan lebih terhormat, bila dalam situasi saat ini, yang kita dipikirkan dan tanyakan adalah tentang: bagaimana kita bisa saling peduli? Apa yang bisa kita lakukan untuk saling menolong? Dan sebagai umat beriman, kiranya akan jauh lebih indah bila di tengah-tengah situasi yang mencekam ini kita saling mendoakan, saling menguatkan, saling menghibur tanpa melihat identitas gereja, agama, suku, dan status sosial.

AKHIRNYA

Wabah virus corona, atau istilah Alkitab, penyakit sampar, pasti berlalu. Kita hanya dituntut untuk bersikap bijaksana, waspada, dan bersabar dalam menghadapinya. Dan ingatlah, Allah tidak pernah, Allah menyertai kita. Badai ini pasti berlalu. Salam.

Penulis: Dr. S. Tandiasa