NICO SIAHAAN: UBAH GAYA KOMUNIKASI DENGAN BERBUAT BAIK

NICO SIAHAAN, Anggota DPR RI dari PDI Perjuangan

BANDUNG, WARTANASRANI.COM – Saya sering terngiang-ngiang pesannya Gus Dur, “Berbuat baik ajah terus!” sehingga orang tidak nanya lagi kita siapa. Hal ini disampaikan Nico Siahaan menanggapi pertanyaan awak media terkait intoleransi yang terjadi di wilayah Jawa Barat. Disela-sela Ibadah Puji dan Doa PGIW Jawa Barat, hari ini, Senin (16/05) di Gereja Kristen Perjanjian Baru (GKPB) Fajar Pengharapan, Jl. Pasirkoja No. 58, Karanganyar, Kec. Astanaanyar, Kota Bandung, Jawa Barat, secara gamblang, anggota DPR RI dari PDI Perjuangan ini menyatakan bahwa pesan Gus Dur merupakan hal penting yang harus dilakukan hari-hari ini.

“Menurut saya itu yang harus kita kerjakan! Bukan terus mengangkat isu intoleransi ini terus menerus, tetapi kita harus mengganti jenis komunikasinya menjadi berbuat baik,” ungkap Nico dengan gaya komunikasinya yang murah senyum.

“Gak apa-apa teman-teman dari Setara membuat penilaiannya, tapi kita sendiri tak perlu terus mengangkat isu itu, melainkan lebih banyak berbuat. Karena kalau perbuatan kita nyata di lapangan, saya yakin lama-lama akan selesai dengan baik,” ungkap Nico lagi.

Sebagai anggota DPR RI dari dapil Jawa Barat I ini, Nico menyarankan supaya tidak membenturkan antara aturan hitam dan putih atau benar dan salah, tetapi bagaimana mengkomunikasikan segala sesuatu dengan perbuatan baik.

“Ada filsafat di Jawa Barat, ikannya dapat, airnya tetap tenang.” Nah, bagaimana melaksankan hal tersebut? Ini yang perlu dipikirkan dan dilakukan. Mendapat ikan, tetapi airnya tidak keruh. Oleh karena itu, perlu diperkuat dengan memperbanyak aksi. Dengan terus berbuat baik, nantinya orang-orang yang keras bisa lentur sendiri”, terang Nico.

Nico yang kelahiran Bandung juga menyoroti banyaknya kesalah pahaman terjadi karena miskomunikasi, sehingga perlu membenahi komunikasi yaitu lebih mengutamakan perbuatan baik sehingga kondisinya akan semakin teduh dan relasi akan semakin baik. Kemampuan beradaptasi juga menjadi sorotannya.

 “Jika komunikasi kita diperbaiki dan semakin baik, maka kondisinya akan semakin teduh dan relasi juga akan semakin baik. Perlu ada penyesuaian saat memasuki tempat yang baru, misalnya mamahami kondisi lingkungan. Perlu beradaptasi dan bersosialisai dengan baik terlebih dahulu pada saat memasuki lingkungan baru. Dengan begitu akan lebih mudah untuk kita berbicara tentang agama. Jikalau bersosialisai bisa berjalan dengan baik, makan relasi akan semakin baik”, ungkap Nico.

Terkait masalah intoleran dengan kesejahtaeraan, menurut Nico dibutuhkan usaha bersama untuk saling mensejahterakan.

“Kesejateraan memang perlu, namun utamanya adalah kita saling mensejahterakan. Tangan di atas memang lebih bagus, namun itu bukan satu-satunya jalan, saling mengharagi dan saling memahami dan lebih banyak mendengar akan jauh lebih baik”, tutup Nico mengakhiri wawancara singkat dengan jurnalis Pewarna Indonesia.