PENGERTIAN TENTANG ALLAH

 Penulis:
Tommy Lantang, M.Th., M.Pd.K
Dosen Tetap STT PAIS JAKARTA
Dosen Tidak Tetap Universitas Bhayangkara Jakarta
Dosen Tidak Tetap Universitas Trilogi Jakarta
Dosen Tidak Tetap STT Makedonia Jakarta
Dosen Tidak Tetap STT Hasta Efata Indonesia Tarakan

 

Kata Ibrani “elohim”; Yunani, “theos”; Inggris, “god” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kata Allah, diambil dari kata Semit “el” yang bersumber dari kata “il”, yang artinya dewa, dan dalam bahasa Arab disebut “ilah”. Kata “il” bukan saja berkaitan dengan sesuatu yang ilahi tetapi berhubungan juga dengan nama utama ilah. Bahkan dewa orang Kanaan namanya ialah “il”.

Istilah Allah sendiri berasal dari bahasa Arab, “al-ilah”. Kata “al” merupakan kata sandang yang definitif (Inggris: “the”; Indonesia: “sang”). Kata “ilah” sama artinya dengan “el”. Jadi kata “al-ilah” artinya sang Mahakuasa atau yang Mahakuasa. Kata “al-ilah” menurut peraturan baca bahasa Arab harus dibaca “al-lah”, karena huruf “i” di antara “al” dan “ilah”, tidak dibaca.

Islam bersama dengan bahasa Arab yang masuk ke Indonesia abad ke 13, memiliki pengaruh yang kuat terhadap bahasa Melayu. Dan kata Allah yang merupakan istilah Arab yang artinya sang Mahakuasa, yang Mahakuasa, dipakai oleh Melchior Leijdekker untuk menterjemahkan kata el atau elohim, dalam terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Melayu pada tahun 1733. Kata ini juga dipakai oleh Lembaga Alkitab Indonesia untuk menterjemahkan kata el atau elohim, sebagai Allah yang Mahakuasa, Mahaagung, Mahakasih, dan lain-lain.

Kata Allah dipakai oleh 20 juta orang Kristen sampai hari ini di negara Arab, dan tidak pernah ada masalah, karena bagi mereka Allah sama dengan el atau elohim. Bahkan orang Yahudi di Arab menterjemahkan kata elohim dalam Perjanjian Lama dengan Allah. Di zaman jahiliah memang makna dan nilai sebutan Allah merosot. Istilah Allah pada waktu itu mereka samakan dengan dewa, patung-patung, berhala-berhala, namun maknanya kembali diperbaharui oleh Islam yang berkembang pada abad ke 7. 

Alkitab menyaksikan tentang fakta-fakta yang tidak dapat disangkal bahwa Allah kita dapatlah dijelaskan sebagai berikut:

1)   Bahwa Allah kita tidak dapat dipahami oleh akal pikiran. Pikiran kita tidak mampu menguasai pengetahuan tentang Dia sebagai Allah yang Mahakuasa (transendensi). Dia tidak dapat disamakan dengan allah bangsa-bangsa lain, seperti ditulis Ayub, “Dapatkah engkau memahami hakekat Allah, menyelami batas-batas kekuasaan Yang Mahakuasa?” (Ay. 11:7). Yesaya juga menulis, “Jadi dengan siapa hendak kamu samakan Allah, dan apa yang dapat kamu anggap serupa dengan Dia?” (Yes. 40:18).

2)   Walaupun Allah kita tidak dapat dijangkau oleh akal pikiran kita, namun Dia telah menyatakan diri-Nya kepada kita dan dapat kita kenal di dalam diri Tuhan Yesus Kristus (imanen). Yohanes menulis, “Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia” (Yoh. 14:7). “Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal”  (1 Yoh. 5:20).

Pengetahuan tentang Allah dapat digolongkan dalam hubungan dengan sumbernya, isinya, keprogresifannya dan maksudnya. Allah sendiri adalah sumber pengetahuan kita tentang Dia. Tentu saja semua kebenaran adalah kebenaran Allah. Hanya kebenaran sejati berasal dari Dia, karena sejak dosa masuk ke dalam dunia, manusia melakukan apa yang disebutnya kebenaran, tetapi yang sebenarnya tidak. Manusia telah menodai, menumpulkan, menipiskan dan merusakkan kebenaran yang datangnya dari Allah itu.

Bagi kita sekarang, satu-satunya ukuran yang tak dapat salah untuk menentukan kebenaran yang sejati adalah firman Allah. Alam semesta walaupun menyatakan sesuatu tentang Allah, namun terbatas dan dapat saja kita salah membacanya. Pikiran kita walaupun banyak kali cemerlang di dalam prestasi, tetapi sebenarnya terbatas. Pengalaman-pengalaman kita sekalipun agamawi, tidak dapat dipercayai sebagai sumber pengetahuan akan Allah yang benar.

Sudah tentu pengetahuan dari agama yang sejati harus berasal dari Allah. Di masa yang silam Yudaisme dinyatakan sebagai agama yang sejati dari Allah, namun sekarang digenapi dalam kekristenan. Dan pengetahuan yang sejati tentang kekristenan telah dinyatakan oleh Yesus dan para rasul-Nya. Dan salah satu maksud dari inkarnasi, adalah bahwa Ia menyatakan diri-Nya. Yohanes menulis, “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakannya” (Yoh. 1:18). “Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia” (Yoh. 14:7).

Janji akan datangnya Roh Kudus sesudah kenaikan Yesus Kristus ke sorga termasuk pernyataan selanjutnya mengenai Dia dan Bapa. Yohanes menulis, “Tetapi apabila Ia datang; yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang” (Yoh. 16:13). Roh Kudus membukakan mata rohani kita sehingga kita dapat mengerti akan isi Alkitab dan tentunya kita dapat mengenal Allah.

Suatu pengetahuan yang lengkap tentang Allah ialah pengetahuan yang berdasarkan fakta-fakta dan juga bersifat pribadi. Mengetahui fakta tentang seseorang tanpa mengenalnya secara pribadi terbatas adanya; sebaliknya mengenal seseorang secara pribadi tanpa mengetahui faktanya adalah dangkal. Dan Allah sendiri telah menyatakan banyak fakta mengenai diri-Nya, yang kesemuanya penting agar hubungan kita dengan Dia boleh terjalin dengan intim.

Seandainya Allah hanya menyatakan fakta tentang Dia tanpa kita mengenal Dia secara pribadi, maka pengetahuan itu sedikit sekali manfaatnya dan tidak memiliki manfaat dalam kekekalan. Hubungan antara kita dengan Allah yang bersifat pribadi itu akan membangkitkan kerinduan kita untuk mengetahui lebih banyak fakta tentang Dia yang kemudian memperdalam hubungan itu, yang pada gilirannya menambah kerinduan kita untuk lebih mengenal-Nya lagi.

Pengetahuan akan Allah dan karya-Nya dinyatakan secara bertahap sepanjang sejarah. Bukti paling jelas ialah membandingkan teologi Yahudi yang belum lengkap itu dengan pernyataan yang lebih lengkap dari teologi Kristen dalam banyak hal, misalnya pada ajaran-ajaran seperti Allah Tritunggal, Kristologi, Roh Kudus, gereja Tuhan, akhir zaman, keselamatan, dan lain-lain.  

Pengetahuan tentang Allah penting kita pelajari dengan tujuan, sebagai berikut:

1)   Dapat menuntun kita untuk memperoleh hidup yang kekal, sebagaimana ditulis Yohanes, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yoh. 17:3). Paulus menulis juga, “Yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (1 Tim. 2:4).

2)   Untuk membantu pertumbuhan kerohanian kita, seperti ditulis Petrus, “Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya” (2 Ptr. 3:18). Dan pertumbuhan dimaksud dapat terjadi melalui pengetahuan yang bersifat pengajaran. Yohanes menulis, “Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri” (Yoh. 7:17). Paulus menulis, “Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus” (Ef. 1:18). Pertumbuhan dimaksud dapat juga terjadi melalui cara hidup yang mampu untuk memilih yang benar. Paulus menulis, “Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus” (Flp. 1:9-10).

3)   Mengingatkan kepada kita tentang penghukuman yang kekal, sebagaimana ditulis dalam kitab Ibrani, “Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu. Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka” (Ibr. 10:26-27). Hosea juga menulis, ”Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu” (Hos. 4:6).

4)   Menyebabkan kita suka untuk menyembah Allah, sebagaimana ditulis Paulus, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya” (Rm. 11:36).

Pengetahuan tentang Allah berbeda dengan pengetahuan yang lain. Di dalam pengetahuan akan Dia, kita hanya dapat memperolehnya sejauh Dia menyatakannya kepada kita. Jika Dia tidak mengambil inisiatif untuk menyatakan diri-Nya, mustahil kita dapat mengenal-Nya. Dalam ilmu pengetahuan lainnya, kita sering menempatkan diri di atas obyek penyelidikan, tetapi tidaklah demikian dalam mempelajari tentang Allah. Kita harus menempatkan diri di bawah Dia yang adalah obyek pengetahuan itu.

Suatu bagian penting dari penyataan Allah ialah menyediakan cara untuk menyampaikan penyataan itu. Juga penyataan pribadi Allah di dalam Kristus itu memberikan beberapa cara dalam menyampaikan penyataan itu. Untuk maksud inilah Allah memberikan bahasa. Ia memberikan bahasa kepada Adam dan Hawa bahkan kepada kita semua, agar supaya Dia dapat menyampaikan perintah-perintah-Nya kepada mereka. Musa menulis, “Alah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi” (Kej. 1:28). Juga dimaksudkan supaya Allah dapat berkomunikasi dengan mereka. Musa menulis, “Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: Apakah yang telah kau perbuat ini? Jawab perempuan itu: Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan” (Kej. 3:13).

Sekalipun bahasa manusia telah terpecah-pecah menjadi banyak bahasa di Babel pada zaman Nimrod, bahasa tetap merupakan sarana komunikasi pada segala tingkatan. Kita percaya bahwa Allah telah menyediakan bahasa untuk menyampaikan pernyataan mengenai diri-Nya kepada kita.

Tatkala Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya sendiri, Ia menciptakan manusia sebagai makhluk rasional yang cerdas dan mampu untuk berpikir, walaupun memang intelegensia kita tidak sama dengan intelegensia-Nya. Karena itu kita mempunyai kemampuan untuk mengerti kata-kata, kalimat serta paragraf. Namun dosalah yang membuat pengertian kita tidak dapat diandalkan, tetapi dosa tidak melenyapkan kemampuan dan pengertian kita.

Allah telah memberikan Roh Kudus-Nya kepada kita guna menyatakan perkara-perkara dari Dia, sebagaimana  Paulus menulis, “Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah” (1 Kor. 2:10). Hal ini tidak menjadikan kita tidak dapat keliru, tetapi memberikan kepada kita kemampuan untuk membedakan yang benar dan yang salah. Yohanes menulis, “Sebab di dalam diri kamu telah ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu – dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta – dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia” (1 Yoh. 2:27).

Semua karya Allah memungkinkan kita mengetahui dan mentaati perintah-perintah-Nya yang tertulis dalam Alkitab guna mengenal-Nya. Yakobus menulis, “Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah” (Yak. 4:4).

 

  1. PENYATAAN ALLAH

 Kata penyataan diterjemahkan dari kata Ibrani, “gala”; Yunani, “apokalupto”; Latin, “revelo”, artinya membuka selubung yang tersembunyi. Karena itu bila Alkitab berbicara tentang penyataan, maka pemikiran yang dimaksudkannya ialah Allah aktif membuka bagi manusia kuasa dan kemuliaan-Nya, hakikat dan sifat-Nya, kehendak, jalan dan rencana-Nya. Pendek kata Ia menyingkapkan tentang diri-Nya sendiri, supaya manusia dapat mengenal-Nya.

Perbendaharaan kata mengenai penyataan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru cukup luas, meliputi gagasan-gagasan tentang: membuat hal-hal yang samar-samar menjadi jelas, membuat hal-hal yang tersembunyi menjadi terang, memperlihatkan tanda-tanda, mengucapkan kata-kata, dan membuat orang-orang yang menjadi obyek penyataan, melihat, mendengar, merasa, mengerti dan mengetahui.

Dari sudut isinya, penyataan Allah adalah menerangkan dan juga menyuruh, dan dalam setiap hal adalah normatif. Penyingkapan-penyingkapan oleh Allah selalu dilakukan dalam konteks tuntutan untuk percaya kepada, dan taat terhadap apa yang dinyatakan – suatu tanggapan, yaitu yang seluruhnya ditentukan dan dibatasi oleh penyataan itu sendiri. Dengan kata lain, penyataan Allah datang kepada kita bukan sebagai penerangan tanpa kewajiban, melainkan sebagai peraturan yang bersifat perintah berkaitan dengan iman dan tingkah laku. Hidup kita harus ditata, bukan oleh gagasan dan angan-angan sendiri, bukan pula oleh dugaan-dugaan mengenai hal-hal yang ilahi yang tidak dinyatakan, melainkan oleh kepercayaan yang khidmat mengenai semua apa yang dikatakan oleh Allah kepada kita, yang membimbing kita kepada kepatuhan yang sungguh-sungguh mengenai segala perintah yang terkandung dalam penyataan. Musa menulis, “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita  dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini” (Ul. 29:29).

Alkitab seluruhnya menganggap bahwa Allah haruslah lebih dulu menyingkapkan diri-Nya sebelum kita dapat mengenal Dia. Gagasan Aristoteles (384-322 sM) tentang Allah yang tidak aktif yang dapat ditemukan dengan melakukan suatu penalaran, adalah tidak beralasan sama sekali. Diperlukan lebih dulu suatu prakarsa penyataan, sebab Allah adalah transenden. Dia di dalam cara berada-Nya adalah begitu jauh dari kita sehingga kita tidak dapat melihat Dia, sebagaimana ditulis Yohanes, “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” (Yoh. 1:18).

Manusia tidak dapat menemukan Dia dengan mencari-Nya, ataupun membaca pikiran-pikiran-Nya dengan terkaan yang cerdik. Bahkan seandainya kita tidak jatuh dalam dosa, kita tidak dapat mengenal-Nya tanpa penyataan-Nya. Dalam kitab Kejadian, dinyatakan bahwa Ia berbicara kepada Adam yang belum jatuh ke dalam dosa, sebagaimana ditulis Musa, “Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas” (Kej. 2:16).

Ada dua cara Allah dalam mengambil inisiatif untuk menyatakan diri-Nya kepada kita, antara lain:

  1. Penyataan Allah secara umum, yang mencakup segala sesuatu yang dinyatakan Allah di dalam dunia di sekitar kita, termasuk manusia. Penyataan umum sering disebut sebagai teologi naturalis (prelapsarian).
  2. Penyataan Allah secara khusus; mencakup berbagai cara yang dipakai Allah untuk menyampaikan ilham-Nya yang ditulis di dalam Alkitab. Penyataan khusus disebut teologi yang diilhamkan (postlapsarian) atau yang bersifat penyelamatan. Namun demikian, baik penyataan umum maupun penyataan khusus semuanya adalah “dari Allah dan tentang Allah sendiri”.

 

  1. Penyataan Allah Secara Umum

Penyataan Allah yang umum dapat dilihat melalui alam semesta, sejarah dan hati nurani manusia. Penyataan umum ini disampaikan lewat fenomena yang terjadi dalam alam atau dalam alur sejarah. Penyataan itu ditujukan kepada semua makhluk yang berakal sehingga mereka dapat memahaminya. Penyataan ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan alamiah kita serta meyakinkan kita, agar kita mencari Allah yang benar.

  1. Allah menyatakan diri-Nya melalui alam semesta

Para sarjana ilmu alam  yang menolak gagasan tentang adanya Allah dan beranggapan bahwa alam dapat memenuhi kebutuhannya sendiri, tidak mampu melihat penyataan Allah melalui alam. Kaum panteisme yakni ajaran yang menyamakan Allah dengan kekuatan-kekuatan dan hukum-hukum alam, yang mengidentikkan Allah dengan “segala sesuatu”, “universum”, juga tidak mampu melihat penyataan-Nya yang adikodrati melalui alam semesta. Mata rohani mereka tertutup dan tidak mampu untuk melihat hal-hal yang sifatnya rohani.

Para sarjana teologi kritis juga tidak mampu melihat penyataan Allah melalui alam. Bahkan para filsuf yang bersifat skeptis dan kritis menyatakan bahwa apa yang kita anggap sebagai penyataan Allah melalui alam itu tidaklah lebih daripada sekadar kebenaran yang samar-samar yang diperoleh khususnya melalui pengajaran dalam kekristenan.

Namun secara jujur kita harus berkata bahwa kita telah melihat penyataan Allah melalui alam semesta. Tidak ada yang terjadi karena kebetulan, namun ada suatu Pribadi yang telah menjadikannya. Pemazmur menulis, “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya” (Maz. 19:2). Penyataan Allah yang terlihat melalui alam semesta menunjukkan bahwa Dia ada dan bahwa Dia memiliki sifat-sifat sebagai: Mahakuasa, Mahamulia, Mahabaik, Allah di atas segala allah.

Selama berabad-abad manusia mengagumi rahasia antariksa sambil bertanya-tanya rahasia-rahasia apakah yang terpendam di angkasa luar? Selama abad pertengahan, gereja berusaha mencegah manusia untuk memandang alam semesta melalui teleskop. Para pemimpin gereja merasa takut jika manusia menyelidiki antariksa itu dengan begitu mendalam, dan kemudian mereka mungkin menemukan hal-hal yang menggoncang iman mereka. Namun ketika manusia menemukan sarana-sarana yang lebih besar dan lebih baik untuk menyelidiki antariksa, imannya kepada Allah semakin besar, sebagaimana ditulis oleh pemazmur, “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia” (Maz. 19:2-4). Tidak ada rintangan bahasa terhadap berita yang dipancarkan melintasi langit yang menceritakan tentang Allah. “Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia” (Maz. 19:4,5a).

Sebelum teleskop ditemukan, manusia menghitung bintang yang dapat mereka lihat dan teliti dan menyimpulkan bahwa di angkasa hanya ada 5.119 bintang, namun sudah berabad-abad Alkitab mengatakan, “Seperti tentara langit tidak terbilang” (Yer. 33:22). Sekarang apabila kita mengarahkan teleskop ke antariksa, akan didapati bahwa banyak titik-titik cahaya yang kecil sekali berkelap-kelip di langit bukan hanya bintang, tetapi merupakan bima sakti-bima sakti yang terdiri dari berjuta-juta matahari yang bersinar seperti matahari kita. Dan di sekeliling matahari-matahari yang tak terhitung jumlahnya ini terdapat planet-planet yang juga tidak terhitung banyaknya, yang bergerak bersama-sama mengelilingi ruang angkasa. Jika alam semesta ini dibagi rata, maka kita akan sampai pada angka 100 milyar bima sakti masing-masing terdiri atas 200 sampai 500 milyar bintang, dan setiap bintang satu juta kali lebih besar dari bumi kita.

Tampaknya tidak masuk akal! Namun Allah menggunakan dua ilustrasi yang dapat menolong kita  agar mengerti sedikit lebih baik mengenai kehebatan semua hal itu. Allah membawa Abraham keluar dari rumah dan menyuruhnya menghitung bintang-bintang, “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang - jika engkau dapat menghitungnya”. Kemudian Ia menambahkan, “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu” (Kej. 15:5). Kemudian Allah membawa Abraham ke tepi laut Mati pada saat yang lain dan berkata kepadanya, “Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut” (Kej. 22:17).

Seorang ahli perbintangan mengatakan bahwa jikalau kita dapat menghitung semua biji pasir di semua tepi pantai di dunia, maka kita akan tahu jumlah biji pasir itu sudah mendekati jumlah bintang-bintang di langit. Bila nantinya kita berada di tepi pantau bolehlah kita coba-coba menghitung berapa jumlahnya biji pasir yang berada dalam satu ember penuh. Bukankah menakjubkan sehingga Daud berkata, “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya?” (Maz. 8:4-5a).

Terkesan karena matahari dan bima sakti yang mungkin tak terhitung jumlahnya itu, maka ukuran semesta alam di mana kita hidup bahkan lebih dahsyat. Manusia sudah menempuh perjalanan hampir 250 ribu mil menjelajah angkasa luar dengan Apollo 11, Neil Amstrong dan Edwin Aldrin berjalan-jalan di bulan, tetapi itu sesungguhnya bukanlah suatu perjalanan yang jauh. Bulan adalah tetangga kita yang paling dekat. Bintang tedekat dengan bumi adalah matahari adalah lebih dari pada sejuta kali besarnya bumi kita dan jauhnya 93 juta mil dari bumi kita. Di samping matahari, bintang terdekat dengan bumi adalah Proxima Centauri, lebih dari pada empat tahun cahaya jauhnya, atau sekitar 24 triliun mil dari bumi.

Sulit bagi pikiran kita untuk mengerti dunia-dunia yang tak terhitung jumlahnya, angkasa raya yang tidak terukur, dan rancangan rumit semesta alam ini. Namun semesta alam yang luar biasa rumitnya ini berjalan dengan lancar seperti sebuah jam berkualitas baik yang disetel dengan baik. Bermilyar-milyar bima sakti, masing-masing menempuh perjalanan dengan kecepatan ajaib ke arah yang sudah ditentukan melintasi langit, kadang-kadang berpapasan satu dengan yang lainnya, sama seperti pemain ski air dalam tarian ballet.

Yesaya mengungkap kuasa di belakang tangan yang menentukan perputaran yang hebat itu, yang membuat jam antariksa bergerak terus, seperti ditulisnya, “Dengan siapa hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti dia? Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah siapa yang menciptakan semua bintang itu dan menyuruh segenap tentara mereka keluar, sambil memanggil nama mereka sekaliannya? Satupun tiada yang tidak hadir, oleh sebab Ia Mahakuasa dan Mahakuat” (Yes. 40:25-26).

Apakah kita mempelajari atom-atom yang kecil sekali atau bima sakti-bima sakti raksasa. Kita menemukan rancangan dan susunan luar biasa seorang ahli pikir dan ahli perancang. Semua ciptaan menjadi saksi bagi pencipta. Kalimat pertama dalam Alkitab dengan jelas menyebutkan pencipta tersebut, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” (Kej. 1:1). Bagi kita, iman dimulai dengan suatu kesadaran bahwa suatu hikmat yang melebihi segala sesuatu membuat semesta alam menjadi ada dan membuat manusia jadi tercipta. Tidaklah sulit bagi kita untuk memiliki iman ini karena memang tidak dapat disangkal bahwa dimana ada suatu rencana, maka di sana pasti ada hikmat. Semesta alam yang berjalan teratur menyaksikan kebenaran pernyataan yang paling agung, “Pada mulanya Allah”.

Oleh firman Allah langit telah dijadikan, sebagaimana ditulis pemazmur, “Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada” (Maz. 33:6,9). Allah menggunakan kuasa-Nya yang tidak terbatas itu dan membentuknya menjadi sesuatu. Yeremia menulis, “Tuhanlah yang menjadikan bumi dengan kekuatan-Nya, yang menegakkan dunia dengan kebijaksanaan-Nya, dan yang membentangkan langit dengan akal budi-Nya” (Yer. 10:12).

Kemudian ada juga kuasa besar Allah di cakrawala. Jikalau matahari sedikit lebih besar atau sedikit lebih dekat dengan bumi, maka lautan kita akan mendidih, Jikalau matahari sedikit lebih kecil atau sedikit lebih jauh dari bumi, maka atmosfir kita akan menjadi beku. Dengan demikian tidak ada kehidupan di bumi. Tetapi Allah bukan hanya menciptakan saja, melainkan Ia pun memelihara semua ciptaan itu.

Bilamana kita memandang semua keajaiban di alam, sekali lagi kita melihat bukti bahwa Allah semesta alam  memang memelihara kita dan mau menolong kita. Ia mengetahui semua keperluan kita dan Ia memiliki kuasa untuk menyediakan keperluan-keperluan tersebut. Yeremia menulis, “Ah, Tuhan Allah, sesungguhnya Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan lengan-Mu yang terentang. Tiada suatu apapun yang mustahil untuk-Mu” (Yer. 32:17).        

 Harus kita akui bahwa memang penyataan Allah melalui alam semesta terbatas sifatnya karena sekalipun penyataan itu membuat kita mengakui keberadaan-Nya, namun hal itu tidak dapat menuntun semua orang untuk menemukan keselamatan. Penyataan ini sesungguhnya dimaksudkan untuk mendorong kita dalam mencari penyataan yang lebih lengkap tentang Dia serta rencana keselamatan-Nya. Juga penyataan ini berisi suatu panggilan umum dari Dia kepada kita agar datang kepada-Nya. Kita perlu mencari dan menemukan penyataan khusus dari Allah yang akan membawa kita kepada pengenalan akan Dia sebagai Pribadi yang hidup yang menyatakan diri di dalam Yesus Kristus. Dialah wujud penyataan Allah yang sanggup memberikan keselamatan kepada kita.

  1. Allah menyatakan diri-Nya melalui sejarah

Pemazmur membuat suatu pernyataan yang tegas sekali bahwa nasib kita berada di tangan Tuhan, ketika ia menulis, “Sebab bukan dari timur atau dari barat, dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain” (Maz. 75:7-8). Lukas juga menulis, “Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka, supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia” (KPR. 17:26-27).

Berdasarkan pernyataan tersebut, kita dapat menemukan dalam sejarah, penyataan tentang kuasa dan pemeliharaan Allah yang luar biasa. Kitab Keluaran menyaksikan bahwa sungguh Allah dengan kuasa-Nya yang tak terbatas telah menuntun bangsa Israel keluar dari tanah perbudakan di Mesir untuk menuju tanah yang telah dijanjikan kepada para leluhur mereka. Sebagai umat pilihan-Nya, secara ajaib mereka boleh keluar dari Mesir, melewati laut Kolsum, dan mengalami pemeliharaan-Nya selama empat puluh tahun di padang gurun, dan semua kebutuhan  mereka dipenuhi oleh-Nya.   

Ketika seluruh dunia terjerumus ke dalam politeisme, Abraham, Ishak, Yakub serta keturunan mereka dapat mengenal Allah, sebagai Allah yang benar, tak terbatas, kudus, pencipta, pemelihara dan penguasa alam semesta ini. Namun peristiwa tersebut bukan disebabkan oleh kehebatan mereka dalam menjalankan agamanya, melainkan karena Allah menyatakan diri-Nya kepada mereka melalui sejarah. Dia sendiri menampakkan diri kepada para leluhur, memperkenalkan diri-Nya dan menyatakan kehendak-Nya melalui mimpi, penglihatan. Dia menyampaikan amanat-Nya langsung kepada mereka, dan mengungkapkan sifat-Nya yang kudus dalam hukum-hukum Taurat, sistem persembahan korban, dan kebaktian dalam kemah perhimpunan dan Bait Suci.

Sekalipun Israel itu hanya merupakan bangsa yang kecil yang hidup di daerah yang terpencil, dan hampir tidak memiliki hubungan dagang dengan dunia di sekitarnya, mereka tetap merupakan bangsa yang diperhatikan oleh Allah, sehingga Musa menulis, “Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu” (Ul. 28:2). Ketika Allah mengancam akan membinasakan mereka di padang gurun akibat dosa pemberontakan, ketidakpercayaan, penyembahan berhala yang telah mereka perbuat, Musa memohon dengan sangat kepada-Nya untuk mengasihani mereka itu demi kehormatan-Nya. Dia menulis, “Lalu Musa mencoba melunakkan hati TUHAN, Allahnya, dengan berkata: Mengapakah, TUHAN, murka-Mu bangkit terhadap umat-Mu, yang telah Kaubawa keluar dari tanah Mesir dengan kekuatan yang besar dan dengan tangan yang kuat? Mengapakah orang Mesir akan berkata: Dia membawa mereka keluar dengan maksud menimpakan malapetaka kepada mereka dan membunuh mereka di gunung dan membinasakannya dari muka bumi? Berbaliklah dari murka-Mu yang bernyala-nyala itu dan menyesallah karena malapetaka yang hendak Kaudatangkan kepada umat-Mu” (Kel. 32:11-12).

Pada waktu Israel taat kepada Allah, mereka mengalahkan bangsa-bangsa yang lebih besar dan lebih kuat dari mereka. Musa menulis, “Apabila TUHAN, Allahmu, telah membawa engkau ke dalam negeri, ke mana engkau masuk untuk mendudukinya, dan Ia telah menghalau banyak bangsa dari depanmu, yakni orang Het, orang Girgasi, orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi dan orang Hebus, tujuh bangsa yang lebih banyak dan lebih kuat dari padamu” (Ul. 7:1). Tetapi ketika mereka mengikuti jalan mereka sendiri, Allah menyerahkan mereka kepada bangsa-bangsa lain untuk menindas dan kemudian mereka dibuang ke Babilonia. Namun ketika mereka bertobat dan berseru kepada Allah, maka Dia mengutus seorang pembebas dan memberi mereka kemenangan atas musuh-musuh mereka.

Setiap kali bangsa Israel menjauh dari Allah, mereka mengalami musim kering berkepanjangan, bencana belalang, dan kekalahan dalam perang. Oleh karena itu dapatlah dikatakan bahwa dalam semua pengalaman Israel, Allah menyatakan diri-Nya bukan saja kepada mereka, tetapi juga melalui mereka kepada seluruh dunia. Setiap bangsa boleh mengenal sesungguhnya yang menjadi Allah Israel ialah TUHAN yang menciptakan langit dan bumi, yang berdasarkan hak prerogatif-Nya telah memilih mereka, memberkati mereka dan menjadikan mereka berkat bagi semua bangsa. Setiap bangsa boleh mengakui bahwa Allah Israel adalah Allah yang perkasa, dahsyat, yang tidak dapat dipahami oleh akal pikiran manusia namun yang menyertai dan yang berperang bagi mereka.

Sebagai umat Tuhan, kita pun dapat berkata bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang baik, yang senantiasa membimbing, menuntun, memelihara kehidupan kita. Semua kebutuhan kita dipenuhi-Nya, semua masalah hidup kita diberikan jalan keluar yang terbaik. Ia tidak pernah terlambat untuk menolong kita dan tidak pernah lalai dalam menepati janji-Nya. Apa yang dinyatakan dalam Alkitab semuanya digenapi-Nya. Jadi tidaklah kebetulan ketika kita ada di tengah-tengah dunia ini, semuanya karena Tuhan, oleh Tuhan dan untuk hormat bagi nama Tuhan.  

  1. Allah menyatakan diri-Nya melalui hati nurani manusia

Secara etimologi hati nurani diterjemahkan dari kata Yunani, “syneidesis” yaitu alat yang dengannya orang memahami tuntutan moral Allah, dan yang menyebabkan derita baginya jika ia tidak dapat memenuhi tuntutan-tuntutan itu. Karena itu perlu sekali hati nurani kita dibina secara wajar dan sungguh-sungguh diberi penerangan oleh Roh Kudus. Hati nurani bukanlah sesuatu yang berdaya cipta, melainkan sesuatu yang mampu membedakan dan mendorong. Hati nurani menentukan apakah suatu kelakuan atau sikap kita selaras dengan standar moral atau tidak. Hati nurani mendorong kita untuk melakukan apa yang selaras dengan standar tersebut serta menjaga agar kita tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengannya. Kesadaran tentang benar dan salah yang ada pada kita itulah yang  membedakan antara benar dan salah serta mendorong kita melakukan apa yang benar. Itulah yang merupakan penyataan dari Allah. Hati nurani merupakan pencerminan Allah dalam jiwa kita.

Sebagaimana cermin dan permukaan air danau yang tenang mencerminkan matahari serta menyingkapkan bukan saja keberadaan matahari itu tetapi juga sifatnya, demikian pula hati nurani menyingkapkan bahwa Allah itu ada dan Dia juga menyingkapkan sifat-Nya. Hati nurani kita menyingkapkan bukan saja bahwa Dia ada, tetapi bahwa Dia membedakan antara yang benar dan yang salah. Paulus menulis, “Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka menunjukkan bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela. Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus” (Rm. 2:14-16). Bahwa karena Dia melakukan yang benar karna sifat-Nya yang benar itu, maka Ia menuntut pertanggungjawaban kita untuk selalu melakukan yang benar dan menjauhi yang salah.

Hati nurani juga menyiratkan bahwa setiap pelanggaran kita akan dihukum. Dengan demikian dapatlah ditarik kesimpulan bahwa hati nurani kita merupakan penyataan dari Allah. Hati nurani menunjukkan bahwa ada hukum benar dan salah yang nyata di alam semesta ini, dan bahwa ada pembuat hukum tertinggi yang mewujudkan hukum tersebut, yakni Allah. 

 

  1. Penyataan Allah Secara Khusus

Yang dimaksud dengan penyataan khusus ialah tindakan-tindakan Allah yang dengannya Dia memperkenalkan diri-Nya serta kebenaran-Nya secara khusus pada saat-saat tertentu dan kepada orang-orang tertentu. Namun sekalipun penyataan khusus ini diberikan kepada orang-orang tertentu dan pada saat-saat tertentu, penyataan ini tidak selalu diperuntukkan kepada seseorang saja, tetapi diperuntukkan kepada semua orang. 

Penyataan khusus ini adalah bagian harta kekayaan yang harus disampaikan kepada seluruh manusia. Lukas menulis, “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea, dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (KPR. 1:8). Penyataan khusus itu diungkapkan kepada kita melalui berbagai cara, antara lain dalam bentuk mujizat, nubuat, dalam diri dan karya Yesus Kristus, dalam Alkitab dan dalam pengalaman pribadi.

  1. Allah menyatakan diri-Nya melalui mujizat

Alkitab menggunakan kata Ibrani, “gevura”; Aram, “temah”; Yunani, “teras”, untuk mengartikan pekerjaan Allah. Semuanya diterjemahkan dengan tanda atau mujizat. Hal yang paling membingungkan mengenai mujizat timbul karena manusia gagal melihat bahwa Alkitab tidak membedakan pemeliharaan Allah yang tetap dan berdaulat dari tindakan-tindakan-Nya yang khas dan istimewa. Kepercayaan kepada mujizat dikaitkan dengan pandangan dunia yang memandang seluruh ciptaan tergantung pada Allah yang terus menerus bekerja dan menopang ciptaan-Nya, dan tunduk kepada kehendak-Nya yang berdaulat.

Kendati keberatan-keberatan apriori terhadap cerita-cerita mujizat tidak berlaku, namun tetap tinggal pertanyaan, apa sebenarnya peranan peristiwa-peristiwa luar biasa itu dalam seluruh penyataan diri Allah dalam sejarah. Para teolog ortodoks (Yunani: ”orthos” artinya lurus, benar; ”doxa” artinya pendapat, pandangan), menganggap mujizat sebagai tanda otentik dari nabi-nabi Allah, rasul-rasul-Nya dan terutama Yesus Kristus. Mujizat adalah sarana untuk melihat apa yang selalu dilakukan Allah dan untuk melihat siapa sebenarnya Dia. Mujizat adalah jendela-jendela ke arah kenyataan kebenaran Allah.

Akhir-akhir ini para kritikus liberal mempersoalkan bahwa cerita-cerita mujizat dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru memiliki ciri yang sama dengan cerita mujizat  dari para allah kafir  dan nabi-nabi mereka. Pandangan mereka menyiratkan bahwa mereka tidak mengakui hubungan yang erat antara cerita-cerita mujizat  dengan seluruh penyataan diri Allah.

Mujizat sejati sifatnya supra-alami, yang merupakan sebuah peristiwa yang luar biasa, yang bermanfaat untuk menyingkapkan kehadiran dan kuasa Allah, sedangkan mujizat palsu adalah suatu bentuk tipuan yang dilakukan oleh Iblis. Dalam hal ini Matius menulis, “Sebab Mesias-Mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga” (Mat. 24:24).

Saat terjadinya suatu mujizat, sifatnya sungguh ajaib dan bertentangan dengan hukum alam seperti terlihat dalam peristiwa terbelahnya laut Kolsum. Mujizat dimaksud merupakan penyataan yang khusus tentang kehadiran dan kuasa Allah. Mujizat itu membuktikan keberadaan, kehadiran, kepedulian-Nya. Pada saat sebuah mujizat terjadi, Allah sedang membuktikan kepada kita bahwa Dia adalah Allah yang hidup, menguasai alam semesta, dan mampu juga untuk mengatasi semua masalah yang kita hadapi. Mujizat pertama yang dilakukan oleh Tuhan Yesus pada pesta perkawinan di Kana, membuktikan bahwa Dia berkuasa atas kualitas hidup kita (Yoh. 2:1-11); Lazarus yang sudah empat hari mati dan dibangkitkan oleh Yesus, membuktikan bahwa Dia berkuasa atas kematian (Yoh. 11:1-44). Ketika Yesus berjalan di atas air, hal itu membuktikan bahwa Dia berkuasa atas alam semesta (Yoh. 6:16-21). Ketika Dia sanggup memberi makan lima ribu orang dengan lima ketul roti dan dua ekor ikan, hal ini membuktikan bahwa kuasa pemeliharaan-Nya berlaku atas umat-Nya dahulu sekarang dan sampai selama-lamanya.

Golongan panteisme atau mereka yang menyamakan Allah dengan kekuatan-kekuatan dan hukum-hukum alam, secara apriori menolak adanya mujizat. Bagi mereka alam semesta merupakan sebuah mesin yang dapat memelihara diri dengan usahanya sendiri. Mujizat bagi mereka mustahil karena dianggap melanggar hukum-hukum alam, juga tidak masuk akal karena bertolak belakang dengan pengalaman manusia. Mereka berpendapat bahwa hukum-hukum alam dapat berdiri sendiri dan tanpa pengaruh, pengarahan dan pemeliharaan dari luar.

Kita mengakui bahwa hukum-hukum alam itu tidak sepenuhnya dapat berdiri sendiri karena kuasa saja tidak dapat memelihara dirinya dan tidak dapat bekerja menurut maksud tertentu. Untuk itu diperlukan suatu kuasa yang tak terbatas, dan kuasa itu searah dalam segenap kegiatannya, baik yang berkaitan dengan benda maupun yang berkaitan dengan akal, tanpa merusak semuanya itu. Dialah Allah yang memiliki kuasa itu. Dan kalau Allah melakukan hal itu mengapa kita menganggapnya sebagai pelanggaran terhadap hukum alam, bila Dia berkenan meningkatkan atau menambahkan kekuatan hukum-hukum alam, bertindak tidak searah dengan hukum-hukum itu atau bertindak terlepas dari hukum-hukum tersebut.

Kebangkitan Tuhan Yesus adalah merupakan salah satu fakta dalam sejarah. Kitab-kitab Injil semuanya meyakinkan kita bahwa Dia benar-benar mati dan telah bangkit dari kematian-Nya. Banyak para pengikut-Nya yang melihat bahwa Dia ada dalam keadaan hidup beberapa hari setelah penyaliban-Nya. Mereka begitu yakin akan kebangkitan-Nya, sehingga dengan berani mereka menyaksikan peristiwa tersebut di depan umum di kota Yerusalem. Para murid Yesus telah mengorbankan status sosial, harta benda dan nyawa mereka untuk menyaksikan kebangkitan-Nya itu. Paulus memakainya sebagai bukti bahwa semua  orang percaya  suatu hari akan dibangkitkan juga, sehingga ia menulis, “Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan” (1 Kor. 15:13). 

Monsignor Giulio Ricci meneliti kain kafan (Yunani: sindon) yang disimpan di kota Turin-Italia Utara selama lebih dari 27 tahun dengan dibantu oleh ilmu-ilmu pengetahuan modern. Dari penyelidikan dimaksud banyak hal ditemukan dan diungkap tentang Yesus sebagai manusia yang menderita; tentang penderaan-Nya, pemahkotaan duri di kepala-Nya, pemanggulan salib, perjalanan salib dan penyaliban serta kematian-Nya. Tentang lambung-Nya yang ditusuk tombak dan pemakaman-Nya. Jadi kain kafan Turin diyakini sebagai kain kafan yang dipakai oleh para murid Yesus untuk membungkus jenazah-Nya waktu Ia dimakamkan. Yohanes menulis, “Mereka mengambil mayat Yesus, mengapaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat” (Yoh. 19:40). Pada waktu Yesus bangkit dari antara orang mati, kain kafan ditinggalkan di dalam kubur. Dan dapat dipastikan bahwa para rasul membawa kain kafan itu ke Yerusalem dan menyimpannya di sana.

Pada tahun 1005 ketika Yerusalem diserbu dan diduduki oleh orang-orang Turki, orang-orang Kristen melarikan diri dari Yerusalem ke Konstantinopel (sekarang Istambul). Harta gereja dan barang-barang suci yang sangat berharga mereka bawa serta, termasuk kain kafan. Namun Konstantinopel pun tidak luput dari serbuan orang-orang Turki, dan banyak relikui-relikui suci yang hilang, namun kain kafan masih tetap aman dan utuh. Tetapi kota Konstantinopel terus menerus menjadi bulan-bulanan serangan orang-orang Turki. Maka selama perang-perang salib berikutnya, diamankanlah barang-barang suci dari sana. Pada tahun 1353 kain kafan diketahui berada di tangan keluarga Geoffrey de Charny dari Perancis. Pada tahun 1452 kain kafan itu dipertukarkan dengan sebuah tanah dan puri yang ada di atasnya oleh Pangeran Louis Savoie. Dan ia menyimpannya di sebuah kapel yang indah di Chambery. Pada tahun 1532 ketika terjadi kebakaran di kapel tersebut, lipatan-lipatan kain kafan itu hangus, namun telah diperbaiki pada tahun 1534, oleh para suster di Chambery. Pada tahun 1578 Emmanuele Filibert II, raja Savoie, memindahkan kain kafan dimaksud ke Turin, untuk memperpendek perjalanan Karolus Borromeus, uskup agung Milan, yang ingin menghormati kain kafan.  Dan sampai saat ini kain kafan tersebut tetap menjadi milik dari keluarga Louis Savoie, dan ditempatkan di sebuah kapel yang dirancang dan dibangun secara khusus di kota Turin. Jadi kain kafan ini merupakan bukti sejarah bahwa sesungguhnya Yesus benar-benar telah mati namun pada hari yang ketiga Ia telah bangkit dari antara orang mati. Dia hidup!   Sungguh suatu mujizat yang luar biasa.

Bila kita percaya bahwa kebangkitan Yesus Kristus merupakan fakta sejarah maka kita juga pasti percaya akan mujizat-mujizat, dan akhirnya kita percaya bahwa mujizat masih saja terjadi. Mujizat bahkan juga tidak bertolak belakang dengan pengalaman hidup kita sehari-hari. Kita semua memiliki kesaksian bahwa Allah menjawab doa-doa yang kita panjatkan. Kita yakin bahwa Ia telah mengadakan mujizat demi kepentingan kita atau demi kepentingan orang yang kita doakan. Kita yakin bahwa hukum-hukum alam tidak dapat menjelaskan hal-hal yang telah kita saksikan dan alami dalam kehidupan kita. Secara lebih khusus lagi kita berkali-kali dapat melihat mujizat pembaharuan hati  yang sampai kini pun masih tetap berlangsung. Kita tidak dapat mengubah muka, warna kulit kita, namun secara ajaib Allah dapat dan telah mengubah hati kita yang percaya kepada-Nya.

Mujizat bukanlah melulu penyuguhan lahiriah dari penyataan tapi merupakan bagian intinya, dan tujuannya yang sebenarnya  adalah memupuk iman kepada kuasa campur tangan Allah untuk menyelamatkan kita. Mujizat dimaksudkan untuk memperdalam pengertian kita tentang Allah. Mujizat adalah media-Nya untuk berbicara secara dramatis kepada orang-orang yang memiliki telinga untuk mendengar. Mujizat berkaitan langsung dengan iman para pengamat atau orang-orang yang terlibat langsung, dan dengan iman orang-orang yang akan mendengar atau membaca Alkitab. Yohanes menulis, “Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mara murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (Yoh. 20:30-31). Yesus mencari iman sebagai tanggapan atas kehadiran-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya yang menyelamatkan. Imanlah yang membuat utuh dan membuat perbedaan antara pengungkapan yang murni ciptaan dan komunikasi yang menyelamatkan dari penyataan-Nya.

  1. Allah menyatakan diri-Nya melalui nubuat

Nubuat dalam pemakaian umum Perjanjian Lama diterjemahkan dari kata kerja Ibrani: “khaza” dapat disejajarkan dengan kata kerja “ra’a”, dimana keduanya dipakai sehubungan dengan ramalan, pengamatan akan arti kejadian-kejadian dan akan penafsiran watak. Keduanya dipakai bagi penglihatan dan bagi keaktifan kenabian. Nubuat yang dimaksudkan di sini adalah penyampaian tentang terjadinya suatu peristiwa sebelum peristiwa itu sendiri terjadi. Hal ini bukan melalui kemampuan tembus pandang, melainkan melalui penyampaian langsung dari Allah. Jadi secara sederhana nubuat adalah menyampaikan pikiran serta isi hati Allah seperti yang diungkapkan oleh Roh Kudus. Nubuat adalah curahan hati dan sifat alamiah-Nya.

Fungsi nabi yang pertama ialah sebagai pelayan firman. Tetapi jelas mereka berbicara pada situasi mereka, terutama berupa peringatan-peringatan dan bimbingan-bimbingan mengenai masa depan. Hampir tiap nabi pertama-tama tampil sebagai peramal. Amos menulis, “Berkatalah ia: TUHAN mengaum dari Sion dan dari Yerusalem Ia memperdengarkan suara-Nya; keringlah padang-padang penggembalaan dan layulah puncak gunung Karmel” (Am. 1:2). Bagaimana nabi menerima amanat untuk menyampaikannya kepada sesamanya di mana dia diutus? Jawaban lazim yang diberikan adalah: “Firman Tuhan datang”. Allah sendiri yang mengucapkan firman-Nya itu, yang disampaikan-Nya kepada nabi dan melalui nabi kepada umat-Nya. Pengalaman yang sama seperti itulah  yang dialami oleh Yeremia ketika tangan Allah menjamah mulutnya. Yeremia menulis, “Lalu TUHAN mengulurkan tangan-Nya dan menjamah mulutku; TUHAN berfirman kepadaku: Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu” (Yer. 1:9).

Akan tetapi nilai nubuat bergantung kepada orang yang menyampaikannya. Ia harus memiliki persekutuan yang nyata dan intim dengan Allah. Dalam Perjanjian Lama, para nabi palsu digambarkan sebagai pusing karena arak dan pening karena anggur. Yesaya menulis, “Tetapi orang-orang di sini pun pening karena anggur dan pusing karena arak” (Yes. 28:7). Di antara mereka ada pezinah, seperti ditulis oleh Yeremia, “Tetapi di kalangan para nabi Yerusalem Aku melihat ada yang mengerikan: mereka berzinah dan berkelakuan tidak jujur; mereka menguatkan hati orang-orang yang berbuat jahat, sehingga tidak ada seorang pun yang bertobat dari kejahatannya; semuanya mereka telah menjadi seperti Sodom bagi-Ku” (Yer. 23:14). Di antara mereka ada pengkhianat, seperti ditulis oleh Zefanya, “Para nabinya adalah orang-orang ceroboh dan pengkhianat; para imamnya menajiskan apa yang kudus, memperkosa hukum Taurat” (Zef. 3:4). Di antara mereka ada pendusta, seperti ditulis Mikha, “Seandainya seseorang datang mereka-reka yang hampa dan dusta: Aku bernubuat kepadamu tentang anggur dan arak, maka dialah yang patut menjadi orang yang bernubuat terhadap bangsa ini” (Mi. 2:11). Ada juga nabi yang oportunitis, sehingga Mikha menulis, “Para kepalanya memutuskan hukum karena suap, dan para imamnya memberi pengajaran karena bayaran, para nabinya menenung karena uang, padahal mereka bersandar kepada TUHAN dengan berkata: Bukankah TUHAN ada di tengah-tengah kita! Tidak akan datang malapetaka menimpa kita!” (Mi. 3:11).

Telah dinubuatkan oleh nabi Yesaya bahwa Yesus Kristus akan dilahirkan oleh seorang perawan, dengan menulis, “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” (Yes. 7:14). Ia merupakan keturunan Abraham dari suku Yehuda, seperti ditulis Musa, “Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa” (Kej. 49:10). Ia memasuki Yerusalem dengan menunggang keledai, seperti ditulis Zakharia, “Bersorak-soraklah dengan nyaring hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda” (Za. 9:9). Ia dikhianati oleh teman-Nya sendiri, seperti ditulis pemazmur, “Bahkan sahabat karibku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku” (Maz. 41:10). Dan masih banyak lagi nubuat tentang diri-Nya yang semuanya telah digenapi, sementara digenapi dan akan digenapi. Tidak perlu kita membuktikan penggenapan semua nubuat yang terdapat dalam Alkitab satu persatu, karena semuanya pasti digenapi.  

Karena Allah merupakan pencipta dan pemelihara kita, maka tidak ada yang terlepas dari Dia. Dia bekerja sama dengan pikiran kita sebagaimana Dia bekerja sama dengan hukum alam. Dan bila Allah bertindak dalam proses-proses pikiran yang umum, tidaklah aneh bila Dia melampaui proses pikiran itu dan bertindak terlepas darinya. 

Banyak orang Kristen di Amerika Serikat yang menjadi anggota dari gereja yang tidak percaya “dengan pemikiran bahwa Allah berbicara pada kita zaman ini”. Mereka diajarkan tentang cessationisme, yang artinya bahwa karunia Roh seperti kesembuhan, berbahasa roh, penafsiran bahasa roh, mujizat dan sejenisnya sudah berakhir di abad pertama. Padahal tidaklah demikian. Karunia-karunia Roh diberikan kepada umat Allah supaya kehidupan kerohanian mereka dapat dibangun, dan mereka bertumbuh ke arah Dia yang adalah Kepala atas gereja. Langit dan bumi akan berlalu tetapi firman-Nya akan tetap untuk selama-lamanya.

  1. Allah menyatakan diri-Nya di dalam diri Yesus Kristus

Israel memang percaya akan adanya Allah yang benar dan hidup, tetapi pengertian mereka tentang Dia tidak sempurna dan cenderung kurang benar. Mereka terutama memandang Allah sebagai pemberi hukum dan hakim yang sangat menekankan ketaatan yang terinci dan teliti terhadap hukum Taurat, tetapi tidak memperhatikan keadaan hati manusia dan dalam melakukan keadilan. Mereka menganggap bahwa murka Allah dapat diredakan dengan korban dan Ia dapat dibujuk untuk memberkati mereka melalui korban bakaran. Mereka menganggap bahwa Ia telah menjadikan keturunan lahiriah Abraham sebagai satu-satunya syarat untuk memperoleh kemurahan dan berkat-Nya, serta memandang orang-orang non Yahudi lebih rendah dari mereka. 

Perjanjian Lama penuh dengan berita kasih, kemurahan, kesetiaan Allah, tetapi Israel dengan cepat berbalik ke legalisme, yakni ajaran keselamatan melalui perbuatan baik. Karena itu mereka memerlukan penyataan yang lebih lengkap tentang Dia. Penyataan tersebut didapatkan di dalam diri dan pelayanan Yesus Kristus. Ia merupakan pusat penyataan Allah dan sejarah umat manusia. Penulis surat Ibrani menulis, “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta” (Ibr. 1:1-2). Penulis Ibrani kemudian memperkenalkan Kristus sebagai “cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah” (Ibr. 1:3).

Rasul Paulus menyebut Yesus Kristus sebagai gambar Allah yang tidak kelihatan. Hal itu disampaikannya dalam suratnya kepada jemaat di Kolose, “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan” (Kol. 1:15). “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan” (Kol. 2:9). Dalam hal ini Yohanes menulis, “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” (Yoh. 1:18). Yesus sendiri mengatakan, “Tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya” (Mat. 11:27). Yohanes menulis juga, “Barang siapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh. 14:9). Oleh karena itu gereja sejak dahulu telah melihat di dalam Kristus penyataan yang sempurna dari Allah Bapa. Apa yang Ia lakukan ialah membuka sebuah jendela yang nyata di dalam waktu sehingga kita boleh memandang kasih-Nya yang abadi dan tidak berubah itu.

Di dalam Yesus Kristus kita memiliki penyataan Allah tentang keberadaan, sifat dan kehendak-Nya. Ia merupakan bukti tentang keberadaan-Nya, karena Ia menjalani kehidupan Allah di antara manusia. Ia sangat sadar akan kehadiran Allah Bapa dalam kehidupan-Nya dan senantiasa berhubungan dengan Dia, sehingga Ia berkata, “Akulah yang bersaksi tentang diri-Ku sendiri, dan juga Bapa, yang mengutus Aku, bersaksi tentang Aku” (Yoh. 8:18). Dia juga menunjukkan melalui penyataan-Nya tentang siapa diri-Nya dengan berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada” (Yoh. 8:58).

Yesus Kristus mengatakan tentang kehidupan-Nya yang tidak bercacat cela dengan berkata, “Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? Apabila Aku mengatakan kebenaran, mengapakah kamu tidak percaya kepada-Ku” (Yoh. 8:46). Berbagai jabatan dan hak istimewa diberikan Allah kepada Yesus sehingga rasul Matius menulis, “Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni” (Mat. 9:2). 

Yesus Kristus menyingkapkan kekudusan Allah dengan berkata, “Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu, ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita” (Yoh. 17:11). Ia menyingkapkan kasih-Nya dengan berkata, “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikianlah juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:14-16).

Yesus Kristus juga menyatakan bahwa Dia adalah Bapa dari setiap orang percaya, dengan berkata, “Sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya, bahwa Aku datang dari Allah” (Yoh. 16:27). Ia juga mengungkapkan kehendak Allah agar semua orang bertobat, percaya kepada-Nya dengan berkata, “Jawab Yesus kepada mereka: Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yoh. 6:29). Dan pada akhirnya Tuhan Yesus menghendaki agar supaya setiap kita mengabarkan Injil ke seluruh dunia, dengan berkata, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:19-20).

  1. Allah menyatakan diri-Nya melalui Alkitab

Alkitab adalah nama kumpulan kitab-kitab yang diakui sebagai kanonik, dan diakui pula sebagai firman Allah oleh gereja. Nama ini berdasarkan pemakaian kata Yunani, “biblia” (buku-buku) bagi keseluruhan kumpulan kitab-kitab itu seolah-olah satu kitab saja. Alkitab terdiri dari 66 kitab saja, yang terbagi atas Perjanjian Lama sebanyak 39 kitab, dan Perjanjian Baru sebanyak 27 kitab.

Di dalam Alkitab kita memiliki penyataan dari Allah yang paling nyata dan yang tidak mungkin salah. Alkitab tidak dapat dipandang sebagai suatu penyataan yang sederajat dengan penyataan-penyataan lainnya, namun lebih tepat sebagai perwujudan dari semua penyataan tersebut. Misalnya Alkitab mencatat pengetahuan akan Allah serta tindakan-tindakan-Nya terhadap manusia, sejarah, mujizat, nubuat, Tuhan Yesus Kristus, dan pengalaman batin serta pengarahan ilahi. Karena itu kita harus percaya bahwa Alkitab adalah firman Allah dan satu-satunya sumber tertinggi yang tidak mungkin salah, seperti ditulis Paulus, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Tim. 3:16).

Kata firman Allah diterjemahkan dari kata Ibrani, “davar”, yang secara harafiah artinya “hal yang ada di belakang”. Hal ini menunjuk kepada “kamar di belakang rumah”, yaitu tempat yang Mahakudus di Bait Suci. Dalam psikologi Ibrani, ucapan seseorang dianggap sebagai sebagian dari diri si pembicara yang memiliki keberadaan  sendiri yang nyata. Jadi “davar” berarti ucapan atau firman Allah dalam Alkitab, yakni penyataan atau penyingkapan diri Allah sendiri. Kata ini dipakai bertalian dengan komunikasi dari Dia kepada manusia.

“Davar” mengandung kuasa yang serupa dengan kuasa Allah yang mengucapkannya, seperti ditulis Yesaya, “Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku; ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya” (Yes. 55:11); melaksanakan kehendak-Nya tanpa alangan, sehingga harus diperhatikan oleh para malaikat dan manusia, seperti ditulis oleh pemazmur, “Pujilah TUHAN, hai malaikat-malaikat-Nya, hai pahlawan-pahlawan perkasa yang melaksanakan firman-Nya dengan mendengarkan suara firman-Nya” (Maz. 103:20); tetap untuk selama-lamanya firman-Nya, seperti ditulis Yesaya, “Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya” (Yes. 40:8). Dalam Mazmur 119, kata “davar” lebih menunjuk kepada firman Allah yang tertulis.

Kata Yunani untuk firman Allah ialah “logos”, dipakai dalam terjemahan Septuaginta (LXX) untuk menterjemahkan “davar”. Dalam bahasa Yunani pada dasarnya “logos” berarti “kata”, tapi kemudian berkembang dengan berbagai arti, antara lain:

  1. Dalam tata bahasa Yunani, istilah “logos” mengartikan kalimat yang lengkap.
  2. Dalam logika, istilah “logos” mengartikan suatu pernyataan yang berdasarkan kenyataan.
  3. Dalam retorika, istilah logos mengartikan pidato yang tersusun secara tepat.
  4. Dalam filsafat, istilah “logos” dipakai oleh aliran filsafat Stoa, untuk mengartikan kekuasaan atau tugas ilahi yang memberi kesatuan, pertalian dan makna pada alam semesta (Yunani: logos spermatikos). Manusia dijadikan selaras dengan dasar yang sama, dan manusia itu sendiri dikatakan memiliki “logos”, baik sebagai budi atau rasio (Yunani: logos endiathetos), maupun sebagai kemampuan berbicara (Yunani: logos proforikos). Aliran filsafat Stoa, yang berasal dari kata “Stoa Poikile”, yaitu nama suatu gang di Atena yang bertiang-tiang tinggi besar. Di situlah Zeno (335-263 sM) untuk pertama kalinya mengajarkan ajarannya yang khas itu.

Istilah “logos” banyak sekali dipakai oleh ahli filsafat Philo (20 sM-45 M), seorang sarjana Yahudi, yang terkungkung oleh pandangan yang mempertentangkan Allah dengan dunia ini secara mutlak dan metafisik. Ia beranggapan bahwa pikiran Yunani sudah digambarkan dalam Perjanjian Lama, dan ia memakai ayat-ayat seperti Mazmur 33:6: “Oleh firman TUHAN langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya segala tentaranya”, untuk menerangkan bagaimana Allah yang transenden  mencipta alam semesta dan menyatakan diri-Nya kepada Musa dan para leluhur Israel. Ia menyamakan “logos” dengan pikiran Plato (428-348 sM) tentang dunia ide-ide, sehingga kata ini mengartikan “rencana Allah” dan “kuasa-Nya untuk mencipta”. 

BERSAMBUNG https://wartanasrani.com/&