Menteri Agama RI Fachrul Razi, Kontribusi Pemikiran Konstruktif Pewarna Untuk Pemecahan Masalah Bangsa


Bagikan:

SENTUL, WARTANASRANI.COM – Menghadapi berbagai persoalan bangsa yang memerlukan perhatian bersama, Menteri Agama Republik Indonesia berharap Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA) dapat memberikan kontribusi pemikiran yang konstruktif. Hal ini disampaikan Menteri Agama Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn) Fachrul Razi dalam sambutan tertulis yang dibacakan Sekertaris Ditjen Bimas Kristen, Bapak Dr. Yan Kristianus Kadang, SE., MM dalam pembukaan Kongres II 2019 Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia yang berlangsung di The Pelangi Hotel and Resort, Sentul, Bogor, Jawa Barat, 1-3 November 2019.

“Kami berharap agar Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA) dapat memberikan pencerahan terhadap persoalan yang sedang kita hadapi, serta memberikan kontribusi pemikiran yang konstruktif untuk pemecahan masalahnya, karena dengan sikap kritis yang dimiliki kita semua, khsusunya para tokoh intelektual, diharapkan dapat membantu pemerintah dalam menyelesaikan persoalan dan mencari solusi terbaik terhadap kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pembangunan di Indonesia,” ujar Menteri Agama.

Diawal sambutan tertulisnya, Fachrus Razi mengingatkan bahwa Indonesia selaku negara multi etnis dan agama, ternyata masih menghadapi persoalan intoleransi yang cukup tinggi.

“Belakangan ini semangat toleransi dan kebinekaan dalam bingkai ideologi Pancasila terus mengalami sebuah degradasi yang cukup drastis di kalangan masyarakat bangsa Indonesia terlebih khusus pada kalangan kaum muda. Sehingga tidak heran sebagian besar masyarakat dan orang muda bangsa ini begitu cepat terpengaruh dengan masuknya ideologi-ideologi yang berasal dari luar bahkan seringkali ideologi-ideologi tersebut secara terang-terangan mangatakan anti terhadap Pancasila dan semangat kebinekaan yang sudah beratusan tahun tertanam dalam kepribadian dan kebudayaan masyarakat Indonesia,” tegas Menteri Agama.

Untuk itu Menteri Agama menyatakan bahwa Pancasila sebagai dasar falsafah hidup berbangsa dan bernegara merupakan suatu kekuatan yang menyatukan seluruh elemen masyarakat bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke dengan berbagai latar belakang suku dan budaya, ras serta agama yang berbeda-beda perlu direfleksikan dan diimplementasikan secara sungguh-sungguh oleh semua masyarakat bangsa Indonesia tanpa terkecuali.

Baca Juga  ulu masyarakat desa Goschenen hidup tanpa akases karena terhalang oleh bebatuan Scholennen Gorge yang mengelilingi desa. Adapun masyarakat desa telah mencoba untuk membuat jembatan penghubung untuk melewati bebatuan, namun itu juga bukan hal yang mudah. Menurut legenda, karena sulitnya membangun jembatan tersebut, seorang penggembala kambing meminta bantua

“Pancasila apabila dimaknai secara mendalam tentu bisa membawa Indonesia menuju cita-cita kemerdekaan yang dahulu telah ditanamkan dalam setiap benak anak bangsa. Seluruh masyarakat bangsa Indonesia memiliki tanggung jawab penuh dalam menjaga dan melestarikan Pancasila serta nilai-nilai yang terkandung didalamnya dari pengaruh radikalisme dan sikap intoleran yang memecah belakan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Semua elemen bangsa apapun itu suku, agama, etnis wajib mendukung dan berani bersuara menegakkan Pancasila,” tegas Menteri Agama.

Pada bagian lain, Fachrul Razi menekankan soal pentingnya moderasi beragama untuk menagkal ekstrimisme dan radikalisme yang berbalut ajaran agama.

“Moderasi beragama dipandang sangat urgen dan diperlukan untuk menangkal ekstrimisme dan radikalisme yang berbalut ajaran agama, Karena itu, Kementerian Agama RI menempun jalan-jalan yang dianggap perlu, antara lain: pertama, memberikan himbauan dan seruan kepada pengelola rumah ibadah supaya menggunakan rumah ibadah secara arif dan bijaksana; kedua, menghimbau semua penceramah, pengkhotbah, penyuluh agama agar tidak bersikap provokatif dan agitatif terhadap kelompok agama lainnya, apalagi sampai menyebar fitnah; ketiga, mengambil kebijakan-kebijakan publik di bidang agama, termasuk berusaha menyeimbangkan kutub-kutub ekstrim sikap beragama sejauh tidak mengintervensi kehidupan beragama secara internal,” jelas Menteri Agama.

“Singkatnya, Kementerian Agama mendorong moderasi beragama sebagai langkah untuk menumbuhkan toleransi di dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga Tri Kerukunan Umat Beragama dapat terwujud: Kerukunan intern umat beragama, kerukunan antar umat beragama, dan kerukunan antar umat beragama dengan pemerintah,” jelas Menteri Agama lagi.

Pada akhirnya, Fachrul Razi mengajak Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA) untuk bergandeng tangan bersama pemerintah untuk dapat berbuat sesuai tugas dan profesi.

“Menghadapi masalah yang sangat urgen dan masih memerlukan perhatian kita bersama, kita perlu bersama-sama bergandengan tangan untuk dapat berbuat sesuai dengan tugas dan profesi masing-masing,” ajak Menteri Agama.

Baca Juga  Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana TNI Ade Supandi, S.E., M.A.P beri Kuliah Umum di STT Rahmat Emmanuel Jakarta

“Mengakhiri sambutan ini, saya percaya Kongres ke II ini dapat memutuskan keputusan-keputusan yang strategis ke depan dalam rangka meningkatkan mutu dan kualitas pelayanan kita ke depan. Selamat bersidang,” tutup Menteri Agama. (*)