BOGOR, WARTANASRANI.COM – Kongres Nasional merupakan pertemuan raya pemimpin/pengurus pelayanan anak, remaja, pemuda dan dewasa muda di lingkungan Gereja Bethel Indonesia di seluruh Indonesia dan Internasioanl. Acara akbar DPA GBI yang diadakan setiap empat tahun sekali ini, selain menjadi momentum yang penting untuk saling berbagi visi, misi dan pengalaman demi memenangkan generasi ini, juga memiliki agenda utama pemilihan Ketua Pengurus Pusat (KPP) DPA GBI periode 2017-2021.

Dihadiri lebih dari 1700 pemuda GBI yang berasal dari seluruh penjuru Indonesia dan Timor Leste, Kongres Nasional DPA GBI yang dibuka oleh Ketum BPH GBI, Pdt. Japalin Marbun, akhirnya memilih Pdt. Joel Manalu, M.Th, sebagai Ketua Pengurus Pusat DPA periode 2017-2021. Joel Manalu sebagai KPP DPA GBI baru, akan menggantikan Pdt. Timotius Tan yang sudah dua periode menahkodai generasi muda gereja Kharismatik di Indonesia ini.
Berdasarkan informasi dari peserta sidang, selain Joel Manalu, dalam pemilihan ketua DPA sesuai yang diatur AD/ART GBI ada dua kandidat lain yang bertarung untuk menjadi KPP DPA dalam Kongres Nasional XV yang diselenggarakan selama 3 hari (29-31 Agustus 2017) di Wisma Kinasih Resort, Caringin, Bogor, Jawa Barat ini. Dua kandidat yang belum mendapatkan mandat memimpin DPA GBI empat tahun kedepan tersebut adalah Yohanes Nahuway dan Yohanes Sirait.
Dalam pemungutan suara oleh peserta Kongres, Joel Manalu meraih 514 suara (53,5%), disusul Yohanes Nahuway dengan 406 suara (42,2%) dan 35 suara untuk Yohanes Sirait (0,04%). Sementara itu suara tidak sah ada 6 suara (0,006%). Total suara berjumlah 961 suara.
Selain harapan DPA GBI kedepan menjadi lebih baik di bawa komando Joel Manalu, rasa terima kasih juga disampaikan peserta Kongres kepada Pdt. Timotius Tan, MA., atas pelayanan dan pengabdian penuh yang sudah dilakukan untuk DPA GBI selama dua periode (2009-2017).
Sementara itu, menanggapi soal isu tak perlu lagi kongres semacam ini, Ketua BPH GBI, Pdt. Japarlin Marbun, justru berbeda, menurutnya kongres harus tetap dilaksanakan karena disitulah anak-anak muda sebagai generasi pemimpin GBI ke depan berlatih bagaimana cara berdemokrasi dan berorganisasi. Memang mungkin perlu ditinjau ulang sistem nya saja. Karena GBI memakai sistem perwakilan makanya ke depan yang diutus hanya perwakilan saja sehingga tidak mendatangkan masa yang akan muncul dinamika yang negatif. Baru kemudian diadakan slebrasi yang melibatkan semua pemuda sebagai ajang untuk kebersamaan.







