PEWARNA DAN YAKOM GELAR DISKUSI SHARING PENGALAMAN


Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan memberikan sambutan pada Pembukaan Jakarta Film Week 2021, Kamis (18/11) malam. Foto: Dok: Pemprov DKI Jakarta
Bagikan:

JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Politis senior Ir. Leo Nababan dan wartawan senior Putra Nababan, tampil sebagai pembicara dalam acara dikusi yang bertajuk “Sharing Pengalaman” yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA) bekerjasama dengan Yayasan Komunikasi Indonesia. Acara Pra-Rakernas ini dilangsungkan di Jalan Matraman 10, Jakarta, jumat (11/08/2017).

Dalam paparannya, Leo Nababan lebih menekankan soal Integritas yang harus dimiliki oleh semua anak bangsa dalam menjalankan perannya untuk kemaslahatan bangsa. “Sekarang ini, kita membutuhkan pemimpin pelayan yang berintegritas. Integritas sesungguhnya adalah modal dasar”, tukas politisi senior ini.

Menyinggung soal organisasi Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA) yang mewadahi para pewarta Kristen dan Katolik, Leo Nababan menegaskan hal yang sama soal pentingnya Integritas dalam diri seorang pewarta Nasrani. “Saatnya wartawan-wartawan Kristiani menunjukkan jati dirinya sebagai pewarta yang memiliki Integritas dalam menyuarakan kebenaran, menyuarakan suara kenabian melalui tulisannya”, tegas pria kelahiran Sei Rampai, Deli Serdang, Sumatera Utara, ini meyakinkan. Orang yang berani menunjukkan jati diri lewat tulisannya adalah wartawan yang berintegritas, tegasnya lagi.

Sementara itu, Putra Nababan yang berbagi cerita bagaimana perjuangannya meniti karir di bidang jurnalistik mulai dari reporter biasa sampai akhirnya menjadi pemimpin redaksi dari beberapa media televisi ternama di negeri ini, menekankan soal esensi seorang wartawan.

“Esensi wartawan itu bukan untuk menjadi terkenal. Ketika seorang wartawan jadi terkenal, maka habislah kita. Ruang gerak jadi terbatas dan pada akhirnya kita tidak bisa lagi melakukan tugas dengan baik”, jelas wartawan senior ini.

Menurut mantan pemred Metrotv selama empat tahun ini, pembawa berita jangan sampai menjadi berita. Ketika kita jadi berita, yah sudah habislah. Karena bagaimana pemberita menjadi berita!”, kritik Putra Nababan.

Baca Juga  Prof. Dr. Thomas Pentury, M.Si : Penguatan Institusi Pendidikan dan SDM jadi Prioritas Dirjen Bimas Kristen Kemenag RI

Menjadi jurnalis sebaiknya memulai dari bawah, sehingga dari pengalaman lapangan itu menjadi modal penting tidak dibodohi oleh bawahan pada saat menjadi pimpinan nantinya. “Jadi jurnalis sebaiknya mulai dari bawah, jadi merintis karir itu penting! Jangan dilihat sekarang. Karena dengan pengalaman lapangan yang dimiliki pada akhirnya membantu kita saat menjadi pimpinan. Kita tidak mudah dibodohi oleh bawahan, karena kita tahu cara kerja di lapangan”, tutur Putra Nababan yang 23 tahun menggeluti dunia jurnalistik.

Pada bagian akhir, Putra Nababan mengingatkan bahwa dengan kemajuan teknologi informasi komunikasi saat ini, membuat siapa saja bisa menjadi pemred dan pemilik media. “era media sosial saat ini membuat kita menjadi wartawan, pemimpin redaksi dan pemilik media. Saat meng-upload berita di medsos, itu berarti kita sudah menjadi wartawannya, pemrednya, dan pemilik medianya”, pungkas pendiri ID Talent ini.

Selain pemaparan, diskusi sharing pengalaman yang dipandu oleh moderator Rifal Marbun ini, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang membuat peserta bersemangat untuk mendapatkan jawaban dari narasumber yang dihadirkan. Akhirnya, pemberian cinderamata sebagai tanda terima kasih yang diberikan oleh Jusuf Mujiono Ketum Pewarna dan Hotman J Lumban Gaol Koordinator Acara, menutup rangkaian kegiatan diskusi sharing pengalaman kali ini. (RSO)