JAKARTA, WARTANASRANI.COM – Memperingati Dies Natalis ke-33, Sekolah Tinggi Teologia “IKAT” bekerjasama dengan Persekutuan Perempuan Berpendidikan Teologi (PERUATI) Jabodetabek menyelenggarakan Seminar Nasional di aula Kampus, Rempoa, Tangerang Selatan (11/02/2019). Seminar Nasional ini menghadirkan narasumber, Brigjen Pol. Martinus Hukom S.IK, Wakil Kepala Detasemen Khusus 88 Anti Teror MABES POLRI, dan Vice President World Communion of Reformed Church (WCRC), Pdt. Sylvana Maria Apituley., Ph.D Cand.
Sebagai pembicara pertama, Martinus mengupas soal Terorisme dan Radikalisme dalam Keindonesiaan Indonesia.
Penjelasan seputar bahaya fanatisme sempit dan pola penyebaran radikalisme di Indonesia dan dunia menjadi awal paparannya. Menurutnya, radikalisme menjadi pemicu dari sejumlah konflik bersenjata di dunia. Khususnya ketika pemahaman yang digunakan merupakan kebenaran suatu agama yang dipaksakan untuk berlaku mutlak bagi semua orang.
Martinus juga mengingatkan bahwa keadaan itu pernah pula berlaku di tengah gereja, di masa abad pertengahan. Di mana siapa saja yang berbenturan dengan kebijakan gereja saat itu akan menerima atau diperhadapkan dengan hukuman sepihak.
“Gereja punya pengalaman gelap ketika gereja berada di puncak kekuasaan,” ungkap Martinus.
Sementara pembicara kedua, Vice President World Communion of Reformed Church (WCRC), Pdt. Sylvana Maria Apituley., Ph.D Cand., mengupas tema “Merawat dan Menjaga Indonesia yang Adil Makmur: Pengalaman dan Refleksi Teologis Feminis”. Dalam literasinya Sylvana menganalisis melalui perspektif gender terhadap fenomena terorisme yang terjadi di Tanah Air. Ia juga turut mengungkapkan keprihatinannya terkait keberadaan kelompok radikal yang memanfaatkan kaum ibu, bahkan anak kecil sebagai media untuk menebar teror.
“Kelompok radikal menggunakan tubuh perempuan dan anak sebagai alat untuk mencapai tujuan mereka,” paparnya.
Sylvana juga meminta agar gereja mewaspadai pola penyebaran radikalisme melalui platform media sosial. “Medsos jalur terbaik head to head penyebaran radikalisme di kalangan anak dan perempuan,” ungkapnya.
Sylvana menambahkan bahwa orang Kristen harus mengedepankan sikap-sikap yang tidak antisosial. Menurutnya keterbukaan dan langkah membaur dengan masyarakat merupakan sebuah pilihan terbaik dalam menangkal laju penyebaran radikalisme.
Tak ketinggalan, Sylvana juga memaparkan dari sisi hubungan internasional. Dikatakannya, sebagai anggota dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Indonesia mengembang misi untuk ikut melaksanakan program pembangunan berkelanjutan (Suistanable Development Goal’s/SDG’s), di mana kelompok minoritas pun mendapatkan porsi yang setara di dalam pembangunan tersebut.
“Setiap negara yang menjadi anggota PBB harus melaksanakan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s). Artinya tidak boleh ada yang tertinggal. Itu juga berarti kelompok minoritas pun harus menjadi subjek pembangunan,” kata lulusan STT Jakarta itu.
Pada bagian akhir Seminar Nasional, Ketua STT “IKAT”, Pdt. Dr. Jimmy Lumintang, menyerahkan sertifikat kepada kedua narasumber. Hal menarik terlihat, sebelum rangkaian seminar berakhir, dimana moderator menyempatkan diri mengajak peserta yang hadir untuk berdiri dan memaklumatkan komitmen dalam berpancasila di kehidupan sehari-hari. “Indonesia rumah Kita bersama,” kata moderator. “Saya Indonesia, Saya Pancasila,” teriak seluruh peserta seminar. (*)







