JAKARTA — Wartanasrani.com, Di tengah berbagai dinamika yang menguji Indonesia—mulai dari persoalan penegakan hukum, isu korupsi, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga tingginya kasus intoleransi—sekelompok umat dari berbagai denominasi gereja memilih mengambil langkah spiritual. Mereka bersatu dalam doa memohon pemulihan dan campur tangan Tuhan bagi masa depan bangsa.
Semangat tersebut mengemuka dalam acara Pertemuan Pendoa Indonesia Berdoa Synergi bertajuk “Bersatu Dalam Doa, Berdampak Bagi Bangsa” yang digelar di Graha Bethel Indonesia, Jalan Jenderal Ahmad Yani No. 65, Jakarta Pusat, pada Jumat (10/7/2026).
Pemulihan Bangsa Dimulai dari Pertobatan Umat
National President Full Gospel Business Men’s Fellowship International (FGBMFI) Indonesia, Dalie Sutanto, selaku pembicara utama menekankan bahwa persoalan utama Indonesia saat ini bukanlah kekurangan orang pintar atau kemajuan teknologi, melainkan krisis moral dan kebutuhan akan keterlibatan Tuhan.
“Indonesia tidak kekurangan orang pintar maupun teknologi yang maju. Namun persoalan bangsa masih begitu banyak. Jawabannya sederhana, Indonesia membutuhkan Tuhan Yesus,” tegas Dalie saat menyampaikan khotbahnya.
Mengutip ayat Alkitab dalam 2 Tawarikh 7:14, Dalie mengingatkan bahwa pemulihan sebuah bangsa tidak berawal dari perubahan pemerintah atau membaiknya ekonomi semata, melainkan dari pertobatan dan kerendahan hati umat-Nya.
Dalie juga menyisipkan pesan mengenai pentingnya menjaga keintiman dengan Tuhan di era digital. “Kalau Wi-Fi rumah mati lima menit saja, seluruh keluarga langsung panik. Namun ketika hubungan dengan Tuhan ‘offline’ berbulan-bulan, kita merasa baik-baik saja. Wi-Fi menghubungkan kita dengan internet, tetapi doa menghubungkan kita dengan surga,” pukasnya.
Ia menegaskan bahwa doa harus berjalan seiring dengan kerja keras, integritas, dan sikap optimis dalam mendukung para pemimpin bangsa.
Sinergi Doa, Kerja Keras, dan Integritas
Senada dengan Dalie, anggota Badan Penasihat FGBMFI, Dennis Firmansjah, MM, menambahkan bahwa masyarakat tidak boleh kehilangan harapan di tengah tantangan ekonomi dan tekanan global. Menurutnya, kombinasi antara doa, integritas, dan kerja keras adalah fondasi utama untuk membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih baik.
Sementara itu, Ketua Umum Gerakan Indonesia Berdoa, Cecilia Teguh Ayu Sianawaty, SH, menjelaskan bahwa gerakan ini lahir dari kerinduan mempersatukan seluruh Tubuh Kristus dari berbagai latar belakang gereja sejak Agustus 2024. Saat ini, kegiatan doa bersama rutin diadakan satu hingga dua kali setiap bulan di berbagai lokasi.
Cecilia berharap gerakan doa ini membawa dampak positif yang nyata bagi pemulihan multidimensional di Indonesia.
“Kerinduan saya sederhana, Indonesia dipulihkan. Ekonominya bangkit, investasi kembali masuk, dunia usaha bertumbuh, dan masyarakat kembali memiliki harapan. Ketika tubuh Kristus bersatu dalam doa, saya percaya Tuhan akan melawat Indonesia,” ujar Cecilia.
Melalui ruang-ruang doa ini, para pendoa meyakini bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kekuatan politik, ekonomi, atau teknologi, melainkan juga oleh pemimpin yang berhikmat, rakyat yang berintegritas, serta umat yang setia mendoakan negerinya.
