Tiga Negara ASEAN Berguru Toleransi ke Indonesia Melalui Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya

Ragam
Admin
7 hours  | 7 hours  WIB
Bagikan: WA Facebook
Bagikan:

JAKARTA, WARTANASRANI.COM — Indonesia kembali menjadi percontohan dalam pengelolaan keberagaman. Sebanyak enam delegasi dari lembaga pemerintah dan akademisi tiga negara sahabat—Kamboja, Laos, dan Vietnam—hadir di Jakarta pada 19–23 Agustus 2026 untuk mempelajari secara langsung Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yang diinisiasi oleh Institut Leimena bersama mitra pendidikan dan keagamaan.

Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, menyampaikan bahwa kehadiran para delegasi dalam Program Immersion LKLB bertujuan untuk membagikan praktik baik Indonesia dalam membangun kohesi sosial. Program LKLB sendiri telah melatih lebih dari 11.000 guru dan pendidik di tanah air sejak 2021.

“Kami ingin mereka melihat bahwa berdasarkan apa yang dipelajari dari Indonesia, ada hal-hal baik yang bermanfaat untuk negara mereka dan dari sana kita bisa membangun kerja sama,” ujar Matius dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (21/8/2026).

Kerja Sama Kawasan dan Replikasi LKLB

Program Immersion ini merupakan gelaran keempat sejak 2025, yang secara total telah memfasilitasi 24 delegasi dari lima negara ASEAN. Dalam kunjungan kali ini, para peserta diajak beraudiensi dengan Kementerian Luar Negeri, berkunjung ke Masjid Istiqlal, serta mengobservasi langsung workshop LKLB yang diikuti lebih dari 40 guru dari berbagai provinsi di Indonesia.

Peneliti International Institute of Social Studies (ISS) Erasmus University Rotterdam, Yuyun Wahyuningrum, menyebut pendekatan LKLB sangat dinamis dan dinilai dapat direplikasi di negara-negara Asia Tenggara. Bahkan, ASEAN telah mengadopsi pendekatan LKLB ke dalam cetak biru Visi Komunitas ASEAN 2045 pilar Politik-Keamanan dan Sosial-Budaya.

Tiga Kompetensi Utama LKLB

Senior Fellow Institut Leimena, Alwi Shihab, menjelaskan bahwa program ini membekali peserta dengan tiga kompetensi utama untuk hidup di tengah masyarakat majemuk:

  • Kompetensi Pribadi: Memahami inti ajaran agama sendiri dalam memandang keberagaman secara positif.
  • Kompetensi Komparatif: Memahami sudut pandang dan tradisi kepercayaan orang lain.
  • Kompetensi Kolaboratif: Kemampuan bekerja sama antarpemeluk agama untuk tujuan bersama.
Baca Juga  Didukung Yayasan Anugerah Amal Kasih dan GBI Tamas Harapan Indah, Ibadah KKR Yayasan Pelangi Kasih Tunanetra Berjalan Sukses

Dukungan juga mengalir dari tokoh lintas agama seperti Maha Nayaka Sangha Agung Indonesia, Bhante Partono Nyana Suryanadi Mahathera, serta Senior Fellow Institut Leimena, Pdt. Henriette T. Hutabarat. Keduanya menegaskan pentingnya LKLB sebagai ruang aman untuk membangun kepercayaan, memperluas dialog, dan merespons perbedaan secara jujur serta setara demi menciptakan perdamaian yang berkelanjutan di kawasan Asia Tenggara. (red)