Warta Nasrani – Gerakan Injili (Evangelical), sebuah arus besar dalam kekristenan yang berpengaruh luas di kancah global dan Indonesia, merayakan hari jadinya. Tepat pada peringatan HUT ke-54 Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII), yang jatuh pada 17 Juli 2025, kita menelusuri perjalanan panjang gerakan ini, dari akarnya di dunia hingga perkembangannya menjadi wadah persekutuan yang kokoh di Indonesia.
Akar Global Gerakan Injili
Semuanya bermula dari Gerakan Injili Sedunia yang kini diwadahi oleh Aliansi Injili Dunia (World Evangelical Alliance/WEA). WEA adalah manifestasi global dari semangat Injili yang dicirikan oleh pengakuan iman Injili klasik, sifat konstitusional, berbasis gereja, mencakup aliansi nasional dan regional, serta berfungsi sebagai jaringan yang memperlengkapi gereja-gereja Injili.
Sejarah WEA dapat dibagi menjadi tiga fase:
- Evangelical Alliance (1846–1951): Berawal dari pertemuan di London pada 1846, 800–1000 pemimpin Injili dari 53 kelompok membentuk Evangelical Alliance. Mereka fokus pada kesatuan rohani lintas gereja dan pelopor dalam isu sosial seperti penghapusan perbudakan, kebebasan beragama, dan doa global.
- World Evangelical Fellowship (1951–2001): Setelah dua perang dunia, gerakan ini diperbarui sebagai WEF pada 1951, dengan semangat globalisasi Injili. WEF mengembangkan komisi pelayanan seperti misi, penginjilan, keadilan sosial, dan literatur, dengan kepemimpinan yang mulai bergeser dari Barat ke belahan dunia lain.
- World Evangelical Alliance (2001–Sekarang): Nama “World Evangelical Alliance” resmi diadopsi pada 2001. Di bawah kepemimpinan seperti Geoff Tunnicliffe, jaringan WEA meluas ke berbagai kota besar dan membentuk komisi-komisi baru. Kini, WEA mencakup 143 aliansi nasional, 9 aliansi regional, lebih dari 100 anggota afiliasi, serta berbagai komisi penting.
Perjalanan Gerakan Injili di Indonesia
Di Indonesia, semangat Injili mulai mengkristal pada akhir 1960-an. Sejumlah pemimpin Injili merasakan urgensi untuk membentuk wadah bersama. Inisiatif ini memuncak dalam dua pertemuan penting pada Juni dan Juli 1971 di Jakarta dan Batu, Malang, yang melahirkan Persekutuan Injili Indonesia (PII).
Kata kunci “persekutuan” menjadi landasan gerakan ini, bukan hanya sebagai relasi spiritual tetapi juga wahana strategis untuk membahas beban bersama dalam pekabaran Injil dan misi, merepresentasikan gereja dan lembaga Injili secara nasional, menampung aspirasi kolektif, dan memfasilitasi kerja sama.
Pada 15 Juni 1971, pertemuan formal di Hotel Ramayana, Jakarta, dihadiri oleh sekitar 100 pemimpin Injili. Mereka menyepakati pembentukan PII, struktur pengurus sementara (Ketua: Pdt. Dr. Petrus Octavianus, Sekretaris: Pdt. Willem Hekmann, Bendahara: Philip Leo), serta persiapan Kongres Nasional I dan perumusan AD/ART.
Momen bersejarah lahirnya PII ditetapkan pada 17 Juli 1971 di Batu, Malang, dengan moto: “Dipanggil untuk Bersekutu dan Memberitakan Injil” (Matius 28:19 dan Galatia 5:1). Selama lebih dari tiga dekade, PII menjadi wadah representatif gereja dan lembaga Injili di Indonesia, berperan penting dalam dialog antar-denominasi, penguatan misi, dan keterlibatan dalam isu publik.
Transformasi Menjadi PGLII dan Refleksi 54 Tahun
Pada Kongres Nasional IX PII (3–6 Oktober 2006 di Puncak, Jawa Barat), organisasi ini resmi bertransformasi menjadi Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII). Perubahan nama ini mencerminkan keanggotaan yang kini secara profesional mencakup 99 sinode gereja dan 69 yayasan/lembaga pelayanan Kristen. PGLII kini memiliki pengurus wilayah di 31 provinsi, menjadikannya salah satu aliansi Injili terbesar di Asia.
Tokoh-tokoh penting dalam kelahiran PII antara lain Pdt. Dr. Petrus Octavianus, Pdt. Dr. Ais. M. O. Pormes, Pdt. G. Neigenfind, Pdt. Willem Hekmann, Brigjen (Purn.) N. Huwae, Philip Leo, S. O. Bessie, Pdt. Dr. H.L. Senduk, Ev. S. Damaris, Pdt. Ernest Sukirman, dan Pdt. Andreas Setiawan. Mereka adalah representasi dari berbagai latar belakang yang bersatu dalam visi kesaksian Injili yang kuat di Indonesia.
Panggilan Kesatuan dan Misi Transformasional
Tepat 54 tahun sejak kelahirannya, PGLII telah menapaki perjalanan panjang sebagai wadah kesaksian Injili yang kokoh. Dalam terang doa Yesus akan kesatuan umat-Nya (Yoh. 17:21), eksistensi PGLII adalah wujud nyata dari panggilan Kristus. Kesatuan ini berakar pada kebenaran Injil, kasih, dan misi bersama memberitakan Kristus. PGLII menjadi ruang perjumpaan lintas denominasi dan generasi untuk saling memperlengkapi dalam kesetiaan terhadap Firman Tuhan dan Amanat Agung.
Di tengah tantangan globalisasi, ideologi, dan fragmentasi sosial, keberadaan PGLII semakin urgen. PGLII dipanggil untuk menjaga warisan teologis Injili, menunjukkan kekuatan kesatuan di tengah keberagaman, menjadi suara profetik di ruang publik, dan menjadi agen transformasi Injil yang relevan.
Memasuki usia ke-54, PGLII diundang untuk memperbarui komitmen terhadap panggilan Injili: bersekutu dan memberitakan Injil. PGLII dipanggil untuk terus menjadi pelayan kesatuan, penjaga integritas Injil, dan pemimpin dalam misi transformatif bagi bangsa ini dan bagi dunia. Selamat ulang tahun PGLII!
(Disusun oleh Daniel Ronda)







