(rt / rgy)
Ada orang yang terus menambah banyak hal dalam hidupnya. Rumah dibuat semakin besar, barang semakin banyak, keinginan semakin tinggi, dan aktivitas semakin padat. Namun anehnya, semakin banyak yang dimiliki, belum tentu semakin tenang hatinya. Kadang justru semakin banyak yang harus dipikirkan, dijaga, dan dikhawatirkan.
Sebaliknya, ada kehidupan yang terlihat sederhana. Tidak banyak yang dipamerkan, tidak selalu mengikuti apa yang sedang menjadi tren, dan tidak sibuk membuktikan sesuatu kepada orang lain. Namun di dalam kesederhanaan itu ada hati yang lebih tenang, karena ia belajar menikmati apa yang sudah dimiliki.
Firman berkata, “ Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar .” (1 Timotius 6:6)
Rasa cukup bukan berarti kita tidak boleh memiliki cita-cita atau berusaha menjadi lebih baik. Rasa cukup berarti kita tidak membiarkan keinginan menguasai hidup kita. Kita tetap bekerja, tetapi tidak diperbudak oleh hasil. Kita boleh memiliki lebih banyak, tetapi tidak merasa lebih berharga hanya karena memiliki lebih banyak.
Sering kali kita merasa hidup akan tenang kalau sudah memiliki sesuatu yang lebih: uang lebih banyak, rumah lebih bagus, kendaraan lebih baik, atau kehidupan yang terlihat lebih berhasil. Padahal ketenangan tidak selalu datang setelah keinginan kita terpenuhi. Ketenangan justru sering muncul ketika hati belajar berkata, “ Apa yang ada padaku hari ini sudah cukup untuk aku syukuri.”
Kesederhanaan juga mengajarkan kita untuk tidak hidup demi penilaian orang lain. Kita tidak harus menunjukkan bahwa hidup kita baik-baik saja. Kita tidak perlu membeli sesuatu hanya agar dianggap berhasil. Kita tidak perlu mengikuti semua yang dimiliki orang lain.
Yeshua mengingatkan, “ Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu .” (Lukas 12:15)
Pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi seberapa damai hati kita menjalaninya. Ada hal-hal yang memang perlu dikejar, tetapi ada juga yang justru perlu dilepaskan.
Sederhana bukan berarti kekurangan. Kadang kesederhanaan adalah tanda bahwa kita sudah berhenti mengejar apa yang tidak perlu dan mulai menghargai apa yang benar-benar berarti.
Ketika hati belajar merasa cukup, kita tidak lagi sibuk mencari kehidupan yang terlihat sempurna. Kita mulai menikmati kehidupan yang sudah Elohim percayakan.
