PNPS GMKI dan YKI Gelar Refleksi Kemerdekaan: Soroti Defisit Demokrasi hingga Ketimpangan Sosial

Nasrani
Admin
6 menit  | 6 menit  WIB
Bagikan: WA Facebook
blank
Bagikan:

JAKARTA – Pengurus Nasional Perkumpulan Senior Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PNPS GMKI) bersama Pengurus Yayasan Komunikasi Indonesia (YKI) merintis tradisi baru dengan menggelar Diskusi dan Renungan Kemerdekaan Indonesia. Berlangsung di Kantor YKI, Matraman, Jakarta, acara bertema ‘Menghidupi Kemerdekaan, Merawat Demokrasi, Meneguhkan Persaudaraan, Mewujudkan Indonesia Berkeadilan’ ini menjadi wadah refleksi kritis atas kondisi kebangsaan saat ini.

Puncak acara ditandai dengan Deklarasi Malam Refleksi Kebangsaan yang dipimpin oleh Ketua Umum PNPS GMKI, William Sabandar. Sebelum deklarasi dibacakan, mantan Direktur Utama MRT Jakarta periode 2016–2022 tersebut membacakan puisi karyanya yang berjudul ‘Kemerdekaan yang Terpenjara’.

Dalam orasionya, William menekankan bahwa meski Indonesia telah lama merdeka secara politik, rakyat kecil di berbagai pelosok masih belum sepenuhnya menikmati buah kemerdekaan akibat persoalan kemiskinan, ketimpangan, dan ketidakadilan. Menurutnya, demokrasi politik harus berjalan sejajar dengan demokrasi ekonomi agar seluruh sumber daya alam benar-benar ditujukan untuk kemakmuran rakyat.

Pesan Tegas: Jaga Integritas dan Reformasi Demokrasi

Rangkaian acara juga diisi oleh pandangan kritis dari sejumlah tokoh Senior GMKI dan akademisi:

  • Ketua YKI, Bernard Nainggolan, menyoroti demokrasi saat ini yang dinilainya cenderung hanya melayani kepentingan kekuasaan dan ego sektoral, ketimbang berpihak pada rakyat.
  • Rektor Universitas Kristen Maranatha (2025–2030), Frans Umbu Datta, mengingatkan para aktivis dan Senior GMKI untuk terus menjaga integritas serta membentengi diri dari godaan harta, tahta, dan kekuasaan.
  • Pakar Hukum, Niru Anita Sinaga, menekankan pentingnya kepastian hukum dan perlindungan bagi seluruh warga negara sebagai wujud hakiki dari kemerdekaan.
  • Aktivis Perburuhan, Rekson Silaban, mendorong pentingnya peran kelas menengah dan aktivis dalam mencegah defisit demokrasi agar tidak terkooptasi oleh penguasa.
  • Wakil Ketua Umum DPP PIKI, Pdt. Audy Wuisang, mengingatkan ancaman kemunduran demokrasi, maraknya korupsi, serta kecenderungan melemahnya kebebasan sipil yang berpotensi membawa Indonesia kembali ke kondisi pra-Reformasi.
Baca Juga  HKBP DISTRIK XIX BEKASI MENGGELAR LOKAKARYA UNTUK TINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN MARTURIA

Pancasila sebagai Jalan Hidup

Sebagai penutup pertukaran gagasan, Ketua I Sinode Gereja Kristen Pasundan (GKP), Pdt. Hariman Andrey Pattianakotta, mengajak seluruh elemen gereja dan aktivis Kristen untuk tidak sekadar berwacana, melainkan menjadikan nilai-nilai kasih dan Pancasila sebagai jalan hidup (way of life) untuk transformasi sosial.

Acara yang turut dimeriahkan oleh penampilan Paduan Suara Senior GMKI Medan se-Jabodetabek tersebut diakhiri dengan nyanyian bersama lagu ‘Pancasila Rumah Kita’ karya Franky Sahilatua, menegaskan kembali tekad bersama untuk menjaga Indonesia yang adil, damai, dan bermartabat.