Dr. Daniel Yusmik: Pemimpin Kristiani Wajib Pegang Prinsip, Integritas, dan Karakter di Politik maupun Marketplace

Nasrani
Admin
5 jam  | 5 jam  WIB
Bagikan: WA Facebook
blank
Bagikan:

JAKARTA, Wartanasrani.com – Persatuan Wartawan Nasrani (PEWARNA) Indonesia menggelar Seminar Character Building Sesi IV dengan menghadirkan Hakim Konstitusi Republik Indonesia, Dr. Daniel Yusmik Pancasaki FoEH, S.H., M.H., sebagai narasumber utama. Seminar yang berlangsung secara daring dan luring tersebut mengusung tema “Melahirkan Pemimpin Kristiani Berprinsip, Berintegritas, dan Berkarakter di Bidang Politik dan Marketplace.”

Dalam pemaparannya, Dr. Daniel Yusmik menegaskan bahwa kepemimpinan di ruang publik—baik dalam kancah politik maupun dunia usaha (marketplace)—bukan sekadar persoalan memegang posisi atau menyandang label keagamaan, melainkan tentang bagaimana menggunakan pengaruh dan kekuasaan secara adil, benar, serta bertanggung jawab.

“Tantangan terbesar seorang pemimpin bukan hanya tentang bagaimana memenangkan persaingan, melainkan bagaimana tetap memegang teguh prinsip ketika memiliki kesempatan untuk menyimpang,” tegas Daniel Yusmik di hadapan para insan pers dan akademisi yang hadir.

Tiga Pilar Utama Kepemimpinan Kristiani

Dalam paparan materinya, Daniel merangkum tiga fondasi utama yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin Kristiani:

  1. Berprinsip: Memiliki nilai-nilai luhur yang tidak dapat dinegosiasikan (non-negotiable values) dalam kondisi atau tekanan apa pun.
  2. Berintegritas: Menjaga keselarasan utuh antara ucapan dan tindakan serta berani berdiri tegak di atas kebenaran.
  3. Berkarakter: Konsisten melakukan hal yang benar, baik, dan membangun, bahkan saat tidak ada orang lain yang melihat.

Sebagai contoh konkret integritas bernegara, Daniel menyinggung sosok pahlawan nasional Dr. Johannes Leimena. Mendiang Dr. Leimena yang pernah dipercaya menjadi Pejabat Presiden sebanyak tujuh kali tetap memegang teguh etika serta kerahasiaan jabatan hingga akhir hayatnya demi menjaga keutuhan bangsa.

Mandat Spiritual dan Kultural dalam Sektor Publik

Lebih lanjut, Daniel menjelaskan bahwa kepemimpinan yang berdampak harus menjalankan dua mandat utama secara seimbang:

  • Mandat Spiritual (Dimensi Vertikal): Pemimpin bertindak sebagai penjaga etika, saksi moral, serta “garam dan terang” yang membawa dampak positif bagi lingkungan sekitar.
  • Mandat Kultural (Dimensi Horizontal): Pemimpin menunjukkan profesionalisme prima untuk memajukan kehidupan sosial, menegakkan hukum, serta mewujudkan kesejahteraan bersama masyarakat.
Baca Juga  Pdt. Andy Markus di Pelantikan Pewarna Jabar: Bangsa Ini Tidak Baik-Baik Saja, Jurnalis Kristen Harus Jadi Terang

Di bidang politik, hal ini diwujudkan melalui tata kelola negara yang bersih, transparan, dan berorientasi pada kepentingan publik. Sementara di bidang marketplace, integritas tampak dari kejujuran transaksi, persaingan usaha yang sehat, serta penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) yang adil.

Pentingnya Keteguhan Iman bagi Penegak Hukum

Sebagai seorang Hakim Konstitusi, Daniel membagikan pengalamannya mengenai beratnya godaan di dunia penegakan hukum dan peradilan. Menurutnya, fondasi moral dan spiritual menjadi benteng utama agar seseorang tidak terjerat dalam praktik curang atau mafia peradilan.

“Orang hukum itu harus kuat imannya dulu. Kalau imannya tidak kuat, imunnya terganggu karena godaannya sangat banyak,” imbau Daniel.

Sesi seminar kemudian dilanjutkan dengan diskusi interaktif yang dipandu oleh moderator. Para peserta yang terdiri dari wartawan, pendeta, dan dosen melontarkan berbagai pertanyaan kritis terkait dinamika putusan Mahkamah Konstitusi, batasan penafsiran hukum (judicial activism), hingga strategi pembinaan karakter bagi generasi muda di era modern. (Red)