Ketika Kebiasaan Dianggap Kebenaran

Artikel
Admin
1 menit  | 1 menit  WIB
Bagikan: WA Facebook
blank
Bagikan:

Pernahkah kita bertanya mengapa sampai hari ini banyak orang masih berkata, ” Beli odol,” padahal yang dimaksud adalah pasta gigi? Odol sebenarnya hanyalah sebuah merek yang dahulu sangat dikenal.

Begitu juga ketika seseorang berkata, ” Beli Aqua,” padahal yang dibeli adalah air minum merek lain. Di beberapa daerah, angkutan umum pernah disebut ” Colt ” atau ” Daihatsu “, padahal itu hanyalah merek kendaraan yang kebetulan paling banyak digunakan sebagai angkot pada masa itu.

Lama-kelamaan, orang tidak lagi membedakan antara nama merek dan nama bendanya. Istilah yang kurang tepat terus diulang, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, hingga akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang benar.

Dalam kehidupan sehari-hari, hal seperti ini mungkin tidak membawa akibat yang besar. Namun, bagaimana jika pola yang sama juga terjadi dalam kehidupan rohani?

Bagaimana jika suatu ajaran, tradisi, atau kebiasaan diterima sebagai kebenaran hanya karena sudah diwariskan sejak lama? Bagaimana jika kita mempercayainya bukan karena telah mengujinya dengan firman Elohim, tetapi hanya karena, “Dari dulu juga begitu.”

Inilah yang terjadi pada zaman Yeshua. Banyak pemimpin agama begitu memegang teguh tradisi nenek moyang mereka sehingga tanpa disadari justru mengabaikan firman Elohim. Karena itu Yeshua menegur mereka:

“Kamu mengabaikan perintah Elohim untuk berpegang pada adat istiadat manusia.”
— Markus 7:8

Perhatikan, Yeshua tidak menolak tradisi semata-mata karena tradisi. Yang Ia tegur adalah ketika tradisi ditempatkan lebih tinggi daripada firman Elohim. Saat itulah kebiasaan mulai menggantikan kebenaran.

Bukankah hal yang sama masih dapat terjadi pada zaman kita?

Tidak semua yang sudah lama dipercaya pasti benar. Tidak semua yang dianut oleh banyak orang pasti berasal dari Elohim. Lamanya suatu tradisi bukanlah ukuran kebenaran, dan banyaknya pengikut bukanlah bukti bahwa sesuatu sesuai dengan firman.

Baca Juga  Piagam Konvensi Injil I Ditetapkan, BMPTKKI Tegaskan Injil sebagai Pusat Pendidikan Teologi

Karena itu, marilah kita memiliki kerendahan hati untuk terus belajar. Jangan takut menguji setiap ajaran, setiap kebiasaan, bahkan setiap keyakinan yang selama ini kita pegang. Jika sesuai dengan firman Elohim, peganglah semakin erat. Namun jika ternyata tidak, jangan gengsi untuk meluruskannya. Kebenaran tidak pernah dirugikan oleh sebuah pengujian, tetapi kesalahan sering kali bertahan karena tidak pernah diuji.

Kesalahan yang diulang ribuan kali tidak akan berubah menjadi kebenaran. Sebaliknya, kebenaran tetaplah kebenaran, sekalipun hanya sedikit orang yang berani menerimanya.

Kiranya kita tidak hanya menjadi pewaris kebiasaan, tetapi juga menjadi pencari kebenaran. Sebab pada akhirnya, Elohim tidak akan bertanya apakah kita mengikuti tradisi yang paling tua atau yang paling populer, melainkan apakah kita hidup menurut firman-Nya. (rt / rgy)