Ada orang yang dapat melihat dunia dengan mata, tetapi tidak mampu melihat berkat dalam hidupnya. Sebaliknya, ada orang yang memiliki keterbatasan secara jasmani, tetapi mampu melihat begitu banyak alasan untuk bersyukur.
Tulisan tentang seseorang yang buta tetapi tetap bahagia mengajarkan sesuatu yang sederhana namun dalam: kebahagiaan tidak selalu ditentukan oleh apa yang dapat kita lihat, tetapi oleh bagaimana hati kita memandang kehidupan.
Ketika mata tidak lagi dapat menikmati indahnya dunia, seseorang masih dapat merasakan kasih, mendengar suara orang-orang yang dikasihi, menikmati persahabatan, merasakan kebaikan, dan mensyukuri setiap hari yang masih diberikan kepadanya.
Sering kali kita justru melakukan sebaliknya. Kita terlalu sibuk memikirkan apa yang tidak kita miliki, sampai lupa menghitung begitu banyak berkat yang telah kita terima.
Firman Elohim mengingatkan:
«“Dalam segala keadaan hendaklah kamu mengucap syukur, sebab itulah yang dikehendaki Elohim di dalam Yeshua HaMashiach bagi kamu.”
— 1 Tesalonika 5:18»
Mengucap syukur “dalam segala keadaan” bukan berarti kita harus berpura-pura bahagia ketika sedang mengalami kesulitan. Kita boleh sedih, kecewa, bahkan menangis. Tetapi jangan sampai kesulitan membuat kita lupa bahwa masih ada kebaikan yang dapat kita syukuri.
Ada hal-hal yang mungkin tidak dapat kita lihat dengan mata, tetapi dapat kita rasakan dengan hati. Ada berkat yang baru kita sadari setelah kehilangan sesuatu. Dan ada kebaikan Elohim yang tetap bekerja, bahkan ketika keadaan tidak sesuai dengan keinginan kita.
Yeshua berkata:
«“Berbahagialah orang yang tidak melihat, namun percaya.”
— Yohanes 20:29»
Maka, jangan ukur kebahagiaan hanya dari apa yang terlihat. Jangan ukur kehidupan hanya dari apa yang belum kita miliki.
Belajarlah melihat dengan hati.
Sebab terkadang, ketika mata kita tidak mampu melihat semuanya, justru hati kita belajar melihat lebih dalam: bahwa hidup ini masih penuh berkat, dan selalu ada alasan untuk bersyukur.
