Seorang pemancing tahu bahwa tidak semua umpan boleh dimakan. Umpan yang tampak menarik bisa saja menyembunyikan kail. Jika ikan terburu-buru menyambar, ia bukan mendapatkan makanan, tetapi justru terjebak.
Begitu juga dengan kehidupan.
Tidak semua perkataan perlu kita jawab. Tidak semua sindiran harus dibalas. Tidak semua komentar harus diluruskan. Dan tidak setiap perlakuan buruk orang lain harus kita masukkan ke dalam hati.
Ada orang yang sengaja melempar “umpan” berupa provokasi, gosip, atau perkataan yang menyakitkan. Mereka mungkin tidak membutuhkan jawaban; mereka hanya sedang menunggu reaksi kita.
Ketika kita terpancing, emosi mengambil alih. Kita membalas perkataan dengan perkataan, sehingga masalah kecil dapat berubah menjadi pertengkaran panjang. Akhirnya, ketenangan kita hilang hanya karena menggigit umpan yang dilemparkan orang lain.
Karena itu, kedewasaan bukan hanya kemampuan berbicara, tetapi juga kemampuan mengetahui kapan harus diam.
Ada saatnya kita perlu menutup mata terhadap sesuatu yang tidak perlu dilihat, menutup telinga terhadap perkataan yang hanya menimbulkan keributan, dan menjaga pikiran agar tidak dipenuhi hal-hal yang tidak membawa kebaikan.
“Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya.” (Amsal 25:28)
Tidak membalas bukan berarti lemah. Tidak menanggapi bukan berarti takut. Justru diperlukan kekuatan untuk menahan diri ketika kita sebenarnya mampu membalas.
Apalagi ketika kebaikan kita disalahgunakan. Kita menolong tetapi dianggap bodoh. Kita mengalah tetapi dianggap lemah. Kita tulus tetapi ketulusan kita dimanfaatkan.
Jangan biarkan perilaku buruk orang lain mengubah hati kita. Kebaikan tetaplah kebaikan, sekalipun tidak dihargai. Ketulusan tetap bernilai, sekalipun pernah dipermainkan.
Yeshua mengajarkan:
“Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan.” (Roma 12:21)
Tetaplah berbuat baik, tetapi jadilah bijaksana. Ada saatnya berkata “tidak” adalah bentuk kebijaksanaan. Ada kalanya menjauh adalah cara menjaga damai. Dan ada kalanya diam merupakan jawaban terbaik.
“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23)
Jangan biarkan orang lain mengendalikan kedamaianmu hanya karena mereka melemparkan sebuah “umpan”.
Tidak semua umpan harus digigit. Tidak semua perkataan harus dijawab. Tidak semua perlakuan harus dibalas.
Tetaplah baik, tetaplah tulus, tetapi jangan kehilangan hikmat. Kemenangan terbesar bukan ketika kita berhasil membalas, melainkan ketika kita tetap menjadi pribadi yang baik tanpa kehilangan damai di dalam hati. (rt / rg)
