“WAKTU” MENGAJAR TANPA BERKATA-KATA

Artikel
Admin
28 menit  | 28 menit  WIB
Bagikan: WA Facebook
blank
Bagikan:

Ada hal-hal dalam hidup yang tidak dapat kita pelajari hanya dari nasihat. Ada pelajaran yang baru benar-benar kita pahami setelah melewati pengalaman, menghadapi kehilangan, mengalami kegagalan, atau menunggu sesuatu yang tidak kunjung datang.

Di situlah waktu menjadi guru yang istimewa.

Waktu tidak pernah berdiri di depan kita untuk memberi ceramah. Ia tidak memaksa kita mengerti. Ia hanya berjalan perlahan, membawa kita melewati berbagai peristiwa, lalu membiarkan kita menemukan maknanya sendiri.

Ketika masih muda, mungkin kita mengira bahwa memiliki banyak hal adalah tanda keberhasilan. Namun semakin waktu berjalan, kita mulai memahami bahwa ketenangan hati, keluarga, kesehatan, dan hubungan yang baik ternyata jauh lebih berharga daripada apa yang dahulu begitu kita kejar.

Firman YHWH berkata:

«“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.”
Pengkhotbah 3:1»

Ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan memiliki musimnya masing-masing. Ada waktu untuk memulai, ada waktu untuk menunggu, ada waktu untuk kehilangan, dan ada waktu untuk menemukan kembali. Tidak semua hal harus terjadi sesuai dengan waktu yang kita inginkan.

Waktu juga mengajarkan bahwa tidak semua yang kita inginkan harus kita miliki. Ada pintu yang tertutup, rencana yang gagal, dan harapan yang tidak terwujud. Pada awalnya semua itu terasa seperti kehilangan. Namun setelah waktu berlalu, kita sering menyadari bahwa ada hal-hal yang justru sedang mengarahkan kita kepada sesuatu yang lebih baik.

Karena itu, jangan terlalu cepat menilai sebuah keadaan hanya berdasarkan apa yang kita lihat hari ini.

Sesuatu yang terasa berat sekarang mungkin sedang membentuk kita menjadi lebih kuat. Penantian yang panjang mungkin sedang mengajarkan kesabaran. Kegagalan mungkin sedang mengajarkan kerendahan hati. Bahkan kehilangan dapat membuka mata kita untuk menghargai apa yang selama ini kita anggap biasa.

Baca Juga  Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana TNI Ade Supandi, S.E., M.A.P beri Kuliah Umum di STT Rahmat Emmanuel Jakarta

Pengkhotbah 7:8 mengingatkan:

«“Akhir suatu hal lebih baik daripada awalnya. Panjang sabar lebih baik daripada tinggi hati.”»

Kita sering menilai sesuatu dari awalnya, padahal perjalanan belum selesai. Apa yang terlihat buruk di awal belum tentu berakhir buruk. Karena itu, jangan menyerah hanya karena hari ini belum sesuai dengan yang kita harapkan.

Lihatlah kembali perjalanan hidup kita. Berapa banyak hal yang dahulu membuat kita menangis, tetapi hari ini hanya menjadi kenangan? Berapa banyak masalah yang dahulu terasa seperti akhir dari segalanya, ternyata dapat kita lewati?

Itulah cara waktu mengajar kita.

Waktu mengingatkan bahwa tidak semua badai berlangsung selamanya. Kehidupan juga terlalu singkat untuk terus menyimpan kepahitan, memperbesar kekecewaan, atau menunda kebaikan.

Jangan hanya menghitung berapa banyak waktu yang telah berlalu. Hitung juga berapa banyak pelajaran yang telah kita dapatkan.

Waktu memang tidak pernah berkata-kata, tetapi setiap hari yang kita lewati selalu membawa sebuah pelajaran. Tinggal apakah kita mau berhenti sejenak, melihat ke belakang, dan belajar darinya. (rt / rgy)